Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengaktifkan layanan siaga 24 jam di seluruh fasilitas kesehatan (faskes). Langkah ini untuk mengantisipasi gangguan kesehatan warga akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, sebagaimana diinstruksikan dalam Surat Edaran Kepala Dinkes Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026.
SERANG — Seluruh rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat, balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan di Banten resmi berstatus siaga. Respons cepat ini merupakan tindak lanjut atas potensi penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dapat memicu gangguan pernapasan hingga iritasi kulit.
Kepala Dinkes Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, menegaskan kesiapsiagaan ini sesuai arahan Gubernur Banten. Meski kasus gangguan kesehatan masih terpantau normal, kewaspadaan dini dinilai krusial untuk mencegah lonjakan pasien ke depan.
"Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus," kata Ati di Serang, Senin.
Abu vulkanik mengandung partikel kasar hingga sangat halus serta gas iritan yang membahayakan tubuh. Dinkes Banten mengidentifikasi sejumlah gangguan yang berisiko muncul: iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga perburukan kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Ancaman tak berhenti di saluran pernapasan. Partikel abu juga dapat mengiritasi mata dan kulit. Kontaminasi sumber air dan bahan pangan yang tidak tertutup rapat menjadi bahaya lain, begitu pula potensi kecelakaan akibat jarak pandang menurun dan jalanan yang licin.
Dinkes Banten mewajibkan seluruh faskes menjamin ketersediaan sarana prasarana dan obat-obatan esensial. Ini mencakup sistem rujukan siaga dan ambulans, tabung oksigen, pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler beserta spacer, hingga cairan pembilas mata steril.
Alat Pelindung Diri (APD) dan respirator partikulat seperti masker N95, KN95, dan KF94 juga disiapkan bagi petugas medis di lapangan. Para tenaga kesehatan ditugaskan melakukan surveilans harian untuk memantau potensi lonjakan kasus gangguan pernapasan.
Pengawasan harian diprioritaskan bagi kelompok yang paling berisiko mengalami dampak buruk. Bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penderita penyakit kronis menjadi fokus utama pemantauan ini.
Dinkes Banten memastikan stok masker saat ini aman untuk didistribusikan ke masyarakat. Bantuan tambahan juga akan segera disalurkan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan untuk wilayah Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Ati mengingatkan warga agar ekstra hati-hati saat membersihkan abu vulkanik di sekitar rumah. Membersihkan abu dalam kondisi kering justru berbahaya karena partikel halus mudah beterbangan dan terhirup.
"Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah," imbaunya.