Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan dan Wisata Lampung-Banten, Ini Imbauan Pakar UGM

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Selasa, 08 September 2026 | 14:36:01 WIB
Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau mengganggu lalu lintas penerbangan dan penyeberangan laut di Selat Sunda.

BANTENGunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitasnya. Letusan yang terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam itu memasuki tahap strombolian, di mana ledakan yang dikeluarkan relatif ringan namun berlangsung lama. Dampaknya tidak main-main: lebih dari 170.000 penumpang pesawat terdampar di sejumlah bandara akibat penutupan lalu lintas udara.

Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan Usaha sekaligus pakar vulkanologi, menjelaskan bahwa abu vulkanik menjadi ancaman utama yang harus diwaspadai saat ini. "Abu vulkanik menjadi yang paling diwaspadai saat ini. Ketinggiannya yang cukup signifikan mengganggu transportasi udara, laut hingga darat," ucapnya kepada detikTravel, Senin (7/9/2026).

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Penerbangan dan Kapal Laut?

Dr. Danang yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade pada dunia geografi, kebencanaan, dan vulkanologi menegaskan bahaya abu vulkanik bagi mesin pesawat. "Jika abu vulkanik masuk ke mesin pesawat bisa fatal, pesawat bisa mati," jelasnya.

Gangguan serupa juga dialami moda transportasi laut. Kapal penyeberangan Jakarta-Lampung ikut terdampak karena abu vulkanik mengurangi jarak pandang nakhoda. "Kapal penyeberangan Jakarta-Lampung juga terdampak karena abu vulkanik akan memengaruhi jarak pandang, seperti penerbangan," tambahnya.

Kondisi ini otomatis menghambat perputaran ekonomi, terutama sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan wisatawan. "Itu artinya ada perputaran ekonomi yang terhambat," ungkap Dr. Danang.

Risiko Kesehatan: ISPA dan Iritasi Mata Mengintai Wisatawan

Ancaman abu vulkanik tidak berhenti di transportasi. Kandungan silika pada abu memiliki bentuk yang sangat tajam dan halus jika dilihat di bawah mikroskop. "Kalau kita lihat di mikroskop, kandungan abu vulkanik sangat tajam dan halus, memiliki potensi iritasi untuk saluran pernapasan dan iritasi mata. Sebaiknya, kurangi aktivitas outdoor," papar Dr. Danang.

Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dan kacamata, termasuk kacamata renang sebagai pelindung mata. Ia juga mengingatkan potensi sulfur dioksida yang dikeluarkan gunung tersebut. "Jika nanti hujan, transportasi darat juga harus berhati-hati karena jalanan lebih licin," ucapnya.

Pelajaran dari Erupsi Merapi 2010: Transportasi Darat Menjadi Alternatif

Dr. Danang menilai respons mitigasi kali ini lebih cepat dibandingkan erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam. "Saya lihat sekarang KAI langsung ada penambahan kereta karena bandara terdampak. Beberapa kolega mengatakan bahwa rencana mitigasi di Jakarta sudah disiapkan," katanya.

Mitigasi kebencanaan, menurutnya, tidak hanya berhenti pada langkah preventif. Penghitungan kerentanan ekonomi, termasuk industri perhotelan, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Ia mengimbau pengelola hotel menyiapkan masker sebagai layanan tambahan bagi tamu. "Belajar dari Covid-19, masyarakat kita sudah bisa recall bagaimana penggunaan masker yang baik memberikan keamanan," terang mantan Dekan Fakultas Geografi UGM itu.

Imbauan untuk Wisatawan dan Pelaku Usaha Pariwisata

Meski sektor pariwisata dinilai mampu bergerak dinamis pasca-bencana, Dr. Danang dengan tegas meminta kegiatan di luar ruangan di area Lampung dan Banten ditunda. "Ditunda dulu, demi keselamatan dan kesehatan karena ini adalah prioritas utama. Pelaku wisata yang ada di daerah juga harus bisa mengakomodasikan keperluan wisatawan yang ada di sana," jelasnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah memperbarui informasi secara berkala terkait penyebaran abu vulkanik. "Tiap daerah BPBD daerah dan dinas terkait yang memiliki informasi terkait bencana ini. Sebaiknya dilakukan edukasi publik perihal dampak kesehatan, jangan sampai nanti rumah sakit dan faskes mengalami masa genting karena banyak masyarakat yang terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi mata akibat dari abu vulkanik," pungkasnya.

Bagi wisatawan yang sudah terlanjur berada di Lampung atau Banten, pantau terus informasi resmi dari BPBD setempat dan maskapai penerbangan. Kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama dibandingkan kelancaran liburan.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top