Ciri Anak Kurang Bersyukur yang Terlihat dari 7 Kalimat Sehari-hari

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Jumat, 11 September 2026 | 09:37:31 WIB
Ilustrasi anak bersama ibunya di rumah.

BANTEN — Rasa syukur perlu dikenalkan pada anak sejak usia dini. Sayangnya, anak yang masih kesulitan menghargai apa yang dimiliki belum tentu menunjukkan sikap itu secara terang-terangan.

Menurut ulasan laman Your Tango, tanda kurang bersyukur pada anak bisa dikenali dari kalimat-kalimat sederhana yang sering ia ucapkan sehari-hari. Berikut tujuh di antaranya dan cara ibu menyikapinya.

1. "Ini tidak adil"

Kalimat ini biasanya keluar saat anak mengamuk karena keinginannya tidak terpenuhi, termasuk di tempat umum. Bagi anak, hidup yang tidak berjalan sesuai harapan memang terasa menyebalkan.

Saat itu terjadi, ibu bisa memberi anak ruang dulu, lalu menjelaskan situasi sebenarnya secara perlahan. Tujuannya agar anak belajar mengatasi situasi ketika keinginannya tidak tercapai.

2. "Hanya itu?"

Ketika anak berkata "Hanya itu?", ia belum menunjukkan rasa terima kasih. Alih-alih senang dengan apa yang diberikan, ia justru menuntut lebih banyak.

Psikolog anak Lauren Silvers menyebut ini bisa menjadi tanda pola pengasuhan yang terlalu memanjakan. Menurutnya, ada banyak dampak negatif yang terkait dengan sikap terlalu memanjakan, mulai dari ketergantungan berlebihan pada orang lain hingga ketidakmampuan mempelajari pelajaran hidup yang penting.

Menghentikan kebiasaan ini dan belajar mengatakan 'tidak' bisa memberi pengaruh positif bagi anak di masa depan. Ibu tetap bisa mengajarkan pentingnya rasa syukur dengan cara yang lembut.

3. "Aku menginginkan sesuatu yang lain"

Anak-anak juga bisa mengalami kekecewaan, sama seperti orang dewasa. Namun, ada waktu dan tempat untuk mengungkapkannya.

Menyatakan preferensi secara pribadi tidak masalah. Yang jadi persoalan adalah menyatakannya di depan umum hingga didengar banyak orang. Orang tua perlu mengajari anak bagaimana berperilaku di tempat umum, termasuk saat menginginkan sesuatu.

4. "Aku menginginkannya sekarang"

Sebagian anak memang tidak sabaran. Seberapa pun orang tua menekankan pentingnya menunggu, ia tetap frustrasi ketika tidak langsung mendapatkan yang diinginkan.

Ungkapan seperti ini bisa dianggap tidak sopan. Jika dibiarkan, anak belajar bahwa bertindak seperti itu tidak apa-apa. Karena itu, penting untuk segera menghentikannya sejak awal.

5. "Aku tidak menyukainya"

Mengajarkan anak mengungkapkan perasaan itu baik. Tapi ada waktu dan tempat untuk segalanya, termasuk saat ia harus menilai sesuatu yang diberikan orang lain.

Misalnya, ketika seseorang bersusah payah memasak atau memberi hadiah, menanggapi dengan "Aku tidak suka" bukan hal yang tepat. Sikap itu bukan hanya tidak tahu berterima kasih, tetapi juga tanda perilaku yang buruk.

6. "Berikan aku satu juga"

Kecemburuan yang dirasakan anak adalah emosi normal dan tidak berbahaya. Yang menentukan adalah bagaimana orang tua meresponsnya.

Ketika anak meminta "berikan satu juga untukku" di tempat umum, itu bisa jadi tanda perilaku kurang bersyukur. Situasinya makin sulit jika orang tua tidak punya uang untuk membeli, tetapi anak tetap menuntut. Ajari anak untuk tidak bersikeras soal hal seperti ini.

7. "Itu tugasmu"

Anak yang tidak bersyukur atas apa yang dimilikinya, bahkan untuk kebutuhan pokok, bisa mengatakan "itu tugasmu" untuk merendahkan orang tuanya sendiri. Ini terjadi karena anak belum mampu mengatasi frustrasi saat menghadapi masalah.

Menurut ulasan Child Mind Institute, anak yang sering mengalami ledakan emosi bisa jadi belum mengembangkan keterampilan untuk mengatasi perasaan seperti frustrasi, kecemasan, dan kemarahan. Mengubahnya butuh waktu, tetapi orang tua perlu mengajari anak menghormati semua orang sejak usia dini.

Kapan Perlu Pendampingan Lebih Lanjut

Ledakan emosi sesekali masih wajar dialami anak. Namun, jika sering terjadi dan anak sulit dibantu, ibu bisa berkonsultasi dengan psikolog anak untuk mendapat pendampingan yang sesuai.

Yang terpenting, ajarkan rasa syukur sedikit demi sedikit tanpa perlu memarahi. Anak belajar dari cara orang tuanya merespons, bukan hanya dari kalimat yang diucapkan.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top