BANTEN — Jaringan layanan Holding UMi kini mencakup lebih dari 15.100 kantor yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah itu ditopang lebih dari 74.000 tenaga pemasar yang menjangkau nasabah hingga tingkat komunitas.
Sejak berdiri lima tahun lalu, sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) tidak berhenti di pembiayaan. Ketiganya mengintegrasikan layanan simpanan, transaksi, pendampingan usaha, sampai pembentukan aset lewat ekosistem emas.
Salah satu penopang pertumbuhan adalah ekosistem emas. Hingga Agustus 2026, volume emas yang terhimpun dalam ekosistem Holding UMi mencapai sekitar 153 ton.
Angka itu sekaligus mendorong kebiasaan menabung dan kepemilikan aset di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Skema ini memungkinkan nasabah mikro mengakses instrumen yang biasanya dijangkau segmen menengah ke atas.
Dari sisi pemberdayaan, sekitar 2,3 juta debitur tercatat naik kelas. Mereka berpindah dari segmen usaha lebih kecil menuju akses layanan dan pembiayaan yang lebih luas.
Kenaikan kelas ini menjadi indikator penting bagi Holding UMi. Pasalnya, tujuan pembentukan holding bukan sekadar memperbesar jumlah nasabah, melainkan memastikan mereka bergerak ke tingkat ekonomi yang lebih mapan.
Pencapaian tersebut tercermin dari jumlah debitur aktif yang mencapai 33,8 juta orang dan lebih dari 166,3 juta rekening simpanan mikro per triwulan II 2026.
Group CEO BRI Hery Gunardi menyatakan pengembangan Holding UMi tidak hanya ditujukan membangun ekosistem keuangan berskala besar.
"Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif," kata Hery.
Bagi pelaku UMKM, kehadiran holding ini memperpendek jarak ke layanan keuangan formal. Selama ini segmen ultra mikro kerap terkendala agunan dan riwayat kredit, dua hal yang coba diatasi lewat pendampingan tenaga pemasar di lapangan.
Investasi mengandung risiko.