Barantin Sebut Industri Florikultura Nasional Berpotensi Jadi Motor Ekonomi Hijau, Ekspor Tembus Rp 4,42 Triliun

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Kamis, 17 September 2026 | 22:11:01 WIB

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menilai industri florikultura nasional berpotensi menjadi motor penggerak baru ekonomi hijau. Penilaian itu disampaikan dalam pagelaran Floriculture Indonesia International (FLOII) 2026 di Kabupaten Tangerang, yang diikuti lebih dari 120 peserta pameran dari lima negara. Data Barantin mencatat nilai perdagangan ekspor-impor tanaman hias periode 2025–2026 mencapai Rp 4,42 triliun.

TANGERANG — Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menyatakan sektor florikultura memiliki posisi strategis sebagai pilar ekonomi hijau. Menurutnya, industri tanaman hias menyentuh banyak lapisan, mulai dari breeder, nursery, pengusaha, hingga konsumen.

"Sektor florikultura harus dipandang secara luas sebagai pilar penting dalam pengembangan ekonomi hijau, inovasi, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan industri kreatif di tanah air," kata Karding.

Nilai Ekspor-Impor Tanaman Hias Capai Rp 4,42 Triliun

Data aplikasi BestTrust milik Barantin mencatat total nilai perdagangan ekspor-impor tanaman hias pada periode 2025–2026 mencapai Rp 4,42 triliun. Khusus tahun berjalan, dari Januari 2026 hingga minggu kedua September, nilainya sudah Rp 3,51 triliun.

Angka itu belum menghitung potensi pasar domestik yang disebut Karding jauh lebih besar. Perdagangan tanaman hias di dalam negeri diperkirakan berkisar Rp 20 triliun hingga Rp 40 triliun.

Menurut Karding, nilai sebesar itu masih dikelola secara alami dan belum ditangani secara optimal. Karena itu ia mengajak para pencinta tanaman hias melihat hobi tersebut sebagai motor ekonomi kerakyatan.

"Ini masih dikelola secara alami, belum di-manage, belum di-treatment secara sungguh-sungguh, potensi ekonominya seperti ini. Kita bayangkan berapa rakyat kita bisa berdaya karena hobi tanaman hias," ujarnya.

FLOII 2026 Dikuti Pelaku Industri dari Thailand hingga Ekuador

Steering Committee FLOII Rustika Herlambang menambahkan, penyelenggaraan expo tahun 2026 mempertegas posisi Indonesia di peta florikultura dunia. Pameran itu menghadirkan lebih dari 120 peserta serta pelaku industri dari lima negara, termasuk Thailand, Taiwan, China, dan Ekuador.

"Kehadiran para pelaku global ini membuktikan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu poros penting dalam peta florikultural dunia, dan ini sangat membanggakan," ujar Rustika.

Pameran tersebut mengangkat tema "United by Nature". Menurut Karding, tema itu punya makna filosofis karena tanaman mampu menyatukan breeder dengan nursery, pengusaha dengan konsumen, serta pemerintah dengan komunitas.

Bucephalandra hingga Monstera Jadi Koleksi Unggulan

Sejumlah koleksi tanaman menjadi daya tarik pameran, mulai dari Bucephalandra, Aroid, hingga Monstera. Tanaman-tanaman itu punya nilai taksiran tinggi dan karakteristik unik yang tidak pernah sama persis antara satu dengan lainnya.

"Kreativitas genetik, ketekunan budidaya, dan kelas estetika dapat menghasilkan value creation yang luar biasa dalam industri florikultura," kata Rustika.

Melalui FLOII 2026, para pelaku industri berharap florikultura tidak lagi dipandang sekadar tren atau hobi. Sektor ini dinilai sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan komunitas, industri, dan masyarakat dalam ekosistem gaya hidup berbasis alam.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top