BANTEN — Para menteri ekonomi ASEAN menyepakati percepatan pembaruan pakta perdagangan barang regional atau ATIGA, lebih awal dari jadwal semula. Kesepakatan itu dicapai pada hari pertama Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-58 yang berlangsung di Metro Manila, Filipina, 19-22 September. Hasil pertemuan akan dibawa ke KTT ASEAN ke-49 pada November mendatang.
Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-58 digelar di Metro Manila, Filipina, pada 19-22 September. Agenda tahunan ini dipimpin Menteri Perdagangan Filipina Cristina Roque. Pertemuan membahas perdagangan dan investasi, transformasi digital, pengembangan UMKM, inovasi, hingga pertumbuhan berkelanjutan.
Pada hari pertama pertemuan, menteri-menteri ekonomi ASEAN sepakat meluncurkan pembaruan pakta perdagangan barang regional lebih awal dari jadwal. Pakta yang dimaksud adalah ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), kerangka utama yang mengatur arus perdagangan barang antarnegara anggota.
Percepatan ini menjadi sinyal bahwa kawasan ingin mempercepat integrasi ekonomi di tengah tekanan global. Pembaruan ATIGA mencakup penyederhanaan prosedur, penurunan hambatan nontarif, serta penyesuaian aturan dengan kebutuhan perdagangan digital yang berkembang pesat.
Menurut Roque, hasil pertemuan akan menjadi masukan bagi diskusi para pemimpin pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49. KTT tersebut dijadwalkan digelar pada November. Artinya, keputusan final soal percepatan ATIGA akan bergantung pada persetujuan level kepala negara.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, percepatan pembaruan ATIGA berpotensi membuka akses pasar lebih luas ke sembilan negara ASEAN lainnya. Namun, kesiapan sektor manufaktur domestik menghadapi persaingan yang lebih terbuka tetap menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Selain ATIGA, pertemuan di Manila membahas sejumlah agenda yang menyentuh langsung kepentingan pelaku usaha di kawasan:
Keempat isu itu mencerminkan prioritas ASEAN dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Untuk UMKM, misalnya, integrasi digital lintas batas menjadi kunci agar pelaku usaha kecil bisa ikut menikmati manfaat perdagangan regional, bukan hanya korporasi besar.
Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN memiliki kepentingan langsung dalam pembaruan ATIGA. Aturan yang lebih ramping bisa mempermudah eksportir nasional menembus pasar Filipina, Vietnam, Thailand, dan negara anggota lainnya. Di sisi lain, importir dan konsumen dalam negeri juga berpotensi menikmati harga barang yang lebih kompetitif.
Yang perlu dicermati adalah kesiapan industri dalam negeri. Percepatan liberalisasi tanpa penguatan sektor manufaktur berisiko memperbesar defisit perdagangan dengan sesama negara ASEAN. Karena itu, posisi Indonesia dalam KTT November nanti akan menentukan arah kebijakan perdagangan kawasan ke depan.
Setelah pertemuan di Metro Manila berakhir pada 22 September, hasil pembahasan akan dibawa ke forum tingkat kepala negara. KTT ASEAN ke-49 pada November menjadi momen penentu apakah percepatan pembaruan ATIGA benar-benar dieksekusi sesuai target, atau kembali mundur seperti yang sempat dikhawatirkan sejumlah kalangan usaha.