LEBAK — Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar menyatakan stok pangan daerah itu aman berkat hasil panen dari 28 kecamatan. Dengan total penduduk 1,4 juta jiwa, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Lebak rata-rata 12.854 ton per bulan. Artinya, produksi selama lima bulan pertama 2026 sudah mencukupi kebutuhan lebih dari 13 bulan.
Rahmat menjelaskan petani di berbagai wilayah Lebak akan memasuki musim panen raya pada Juli hingga Agustus 2026 mendatang. Hal itu dipicu gerakan tanam padi seluas lebih dari 20 ribu hektare pada Mei-Juni lalu dengan masa panen 110 hari setelah tanam.
"Kami meyakini produksi beras di daerah ini relatif aman dan bisa memasok kebutuhan nasional," kata Rahmat di Lebak, Kamis.
Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari 2,5 menjadi 3 kali musim tanam dalam setahun. Untuk mencapai target itu, Dinas Pertanian telah menyiapkan bantuan sarana produksi (Saprodi), meliputi benih unggul, perbaikan irigasi, pupuk, pestisida, dan jalan usaha tani.
Selain itu, bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) seperti pompa air, penggilingan padi, traktor, dan combine harvester juga disalurkan. "Kami berharap melalui bantuan itu dapat menggenjot produksi pangan guna mendukung program swasembada pangan berkelanjutan," ujar Rahmat.
Surplus produksi beras Lebak selama Januari-Mei mencapai 49.245 ton jika dibandingkan kebutuhan tahunan. Kelebihan pasokan ini menjadikan Lebak sebagai salah satu pemasok utama beras ke wilayah Tangerang Raya, Jakarta, dan Bogor yang memiliki permintaan tinggi. Dengan IP tiga kali tanam, potensi surplus diprediksi semakin besar pada musim panen berikutnya.