Dua jam perjalanan dari Jakarta, Banten Lama di Serang masih berdiri sebagai sak bisu kejayaan masa lalu. Di sini, napas sejarah terasa pekat — dari reruntuhan tembok keraton yang ditumbuhi akar pohon hingga dentang lonceng benteng peninggalan VOC. Bukan sekadar tempat selfie, setiap sudut menyimpan cerita yang bisa ditarik langsung dari prasasti, arsitektur, dan tradisi yang bertahan.
Artikel ini tidak akan membahas harga tiket atau jam buka yang bisa berubah. Sebaliknya, fokusnya pada nilai historis dan tips praktis berkunjung — berdasarkan pengalaman turun langsung ke lapangan. Ada lima situs utama yang wajib masuk daftar kunjungan Anda.
Dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, Keraton Surosowan pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Hancur akibat Perang Banten melawan VOC pada 1808, kini hanya tersisa tembok tebal, bastion, dan kolam pemandian putri. Udara di sini tenang, kontras dengan riuhnya pelabuhan Banten di masa lalu.
Dari lokasi keraton, Anda bisa melihat langsung Masjid Agung Banten dan Benteng Speelwijk dalam satu pandangan. Waktu terbaik datang pagi hari sebelum panas menyengat. Sepatu nyaman wajib — medan berbatu dan tidak rata.
Masjid ini dibangun tahun 1566 dan menjadi salah satu yang tertua di Indonesia. Keunikannya terletak pada menara setinggi 24 meter yang didesain oleh arsitek Belanda? Tidak. Menara ini justru dirancang oleh Hendrick Lucaszoon Cardeel, seorang arsitek Belanda yang memeluk Islam. Perpaduan corak Hindu, Tiongkok, dan Eropa tampak pada atap tumpang dan pintu utama.
Di dalam kompleks, terdapat makam para sultan Banten. Pengunjung diminta berpakaian sopan — disediakan sarung dan mukena gratis. Areal masjid luas, bisa digunakan untuk istirahat sejenak setelah berkeliling situs lain.
Benteng ini selesai dibangun 1682 oleh Belanda untuk mengawasi aktivitas pelabuhan dan keraton. Dindingnya terbuat dari batu bata merah tebal dengan bastion berbentuk segi lima. Meriam-meriam kuno masih terpajang, beberapa mengarah ke laut. Nama Speelwijk diambil dari Gubernur Jenderal Cornelis Speelman.
Tidak ada atap — hanya dinding dan lantai terbuka. Hati-hati jika membawa anak kecil, beberapa bagian tepi tidak berpagar. Sore hari menjelang maghrib jadi waktu favorit fotografer karena cahaya jingga menerpa batu bata.
Danau buatan ini dibangun pada 1590, tepatnya di Desa Kasunyatan, Banten Lama. Fungsinya sebagai penampung air bersih untuk keraton dan irigasi sawah di sekitarnya. Airnya tenang, dikelilingi pepohonan rindang. Kini danau dimanfaatkan warga untuk memancing dan wisata perahu dayung.
Dari tempat ini, Anda bisa berjalan kaki sekitar 15 menit ke situs Kepurbakalaan Kasunyatan yang menyimpan sumur tua dan sisa bangunan kolonial. Tidak ada tiket masuk resmi, cukup membayar parkir sukarela.
Makam para sultan Banten tersebar di beberapa titik: di dalam kompleks Masjid Agung Banten, di Kasunyatan, dan di pemakaman khusus dekat Keraton. Makam Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri kesultanan, menjadi yang paling dikeramatkan. Aroma bunga dan dupa campur bau tanah basah — suasana yang mengingatkan pada siklus kekuasaan dan kematian.
Peziarah datang setiap hari, terutama hari Kamis malam dan Jumat. Jika ingin suasana lebih sepi, datanglah di hari kerja biasa. Jangan lupa membawa air minum sendiri — pedagang di sekitar terbatas.
Apakah kelima situs ini bisa dikunjungi dalam satu hari?
Bisa. Jarak antar lokasi rata-rata hanya 500-1 km. Mulai dari pagi di Keraton Surosowan, lanjut ke Masjid Agung dan Benteng Speelwijk, lalu siang ke Danau Tasikardi. Makam raja bisa diselingi saat berada di masjid.
Akses dari Jakarta bagaimana?
Naik kendaraan pribadi atau travel jurusan Serang, turun di kawasan Banten Lama. Dari Stasiun Serang, lanjut angkot atau ojek sekitar 20 menit.
Apakah ada pemandu wisata di lokasi?
Ada, biasanya juru kunci atau pemuda setempat yang menawarkan jasa penjelasan sejarah. Tawar-menawar harga wajar. Mereka tahu cerita lokal yang tidak tertulis di buku.
Kapan waktu terbaik berkunjung?
Pagi hari pukul 07.00-10.00 atau sore pukul 15.00-17.00. Hindari siang karena cuaca panas dan minim tempat berteduh di area reruntuhan.
Apakah tempat ini ramah untuk anak-anak?
Ramah, tapi awasi anak di Benteng Speelwijk dan Danau Tasikardi — tidak ada pagar pengaman di beberapa titik. Bawa topi dan tabir surya.
Banten Lama bukan sekadar deretan bangunan usang. Ia adalah teks terbuka yang bisa dibaca dari bata, air, dan doa-doa yang terus diwiridkan. Tidak perlu terburu-buru menyelesaikan semua spot dalam satu jam. Duduklah sejenak di bangku dekat menara Masjid Agung, biarkan angin laut bercerita tentang kapal-kapal yang dulu merapat membawa rempah.