LEBAK — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mengajak masyarakat mengoptimalkan lahan tidur yang selama ini tidak produktif untuk mendukung kemandirian pangan sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga. Ajakan ini menyusul masih luasnya lahan tidur di wilayah Kabupaten Lebak yang belum tergarap oleh pemiliknya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan lahan tidur tersebut dapat dialihfungsikan menjadi area pertanian pangan, palawija, maupun hortikultura. Langkah ini dinilai mampu mendongkrak produksi pangan lokal serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Rahmat mencontohkan pemanfaatan lahan tidur milik BUMN di Kecamatan Maja yang dikembangkan untuk pertanian jagung. Hasilnya, produksi pangan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi petani.
"Perguliran uang bisa mencapai miliaran rupiah jika panen 1.000 hektare dengan produktivitas 5 ton per hektare dengan harga Rp5.000 per kg," kata Rahmat di Lebak, Sabtu.
Dengan produktivitas rata-rata lima ton per hektare dan harga jagung Rp 5.000 per kilogram, petani bisa memperoleh uang Rp 25 juta dari setiap hektare lahan yang digarap.
Di sisi lain, seorang petani warga Kecamatan Maja bernama Hadi menyebut pihaknya tengah mengembangkan budi daya jagung seluas 100 hektare. Pengembangan ini dilakukan untuk mendukung program swasembada pangan sekaligus menopang pendapatan ekonomi keluarganya.
Hadi mengaku lahan yang digunakan merupakan milik perusahaan developer perumahan yang disewa dengan sistem sewa. Dalam setahun, petani setempat bisa melakukan dua kali masa tanam di lahan tersebut.
Jenis jagung hibrida yang ditanam dapat dipanen dalam kurun waktu 80 hingga 90 hari setelah masa tanam. "Kami setiap panen menjual produksi jagung ke perusahaan peternakan juga terkadang ke pedagang pengecer," ujarnya.
Distan Lebak berharap praktik serupa bisa direplikasi oleh petani lain di berbagai kecamatan, sehingga lahan tidur yang tersebar tidak lagi menjadi aset yang terbengkalai.