BANTEN — Internet sudah jadi bagian dari keseharian anak. Mereka memakainya untuk belajar, mencari hiburan, berkomunikasi, sampai mengeksplorasi hal-hal baru. Di tengah kebiasaan itu, peran orangtua jadi kunci agar anak tetap aman dan bijak saat online.
American Academy of Pediatrics menekankan bahwa penggunaan media pada anak tidak cukup diukur dari durasi. Kualitas konten, konteks pemakaian, dan kebutuhan masing-masing anak juga perlu diperhatikan. Artinya, mendampingi anak bukan berarti melarangnya menyentuh teknologi.
Coba tanyakan apa yang anak tonton, game yang dimainkan, atau hal menarik yang ia temukan di internet. Rasa penasaran yang ditunjukkan orangtua membuka ruang diskusi, bukan interogasi.
Pendekatan ini membangun rasa percaya. Ketika anak terbiasa bercerita tanpa takut dimarahi atau langsung dilarang, ia lebih mungkin jujur saat menemukan pengalaman tidak menyenangkan di internet.
Mendampingi anak tidak selalu berarti membatasi gawai secara ketat. Orangtua bisa mulai dengan membuat aturan jelas soal kapan dan bagaimana perangkat dipakai, disesuaikan dengan usia anak dan rutinitas keluarga.
UNICEF menyarankan orangtua menetapkan aturan bersama dan membicarakan aktivitas online secara terbuka. Cara ini membuat anak paham alasan di balik batasan, bukan sekadar merasa dilarang.
Selain mengatur waktu, ketahui aplikasi, permainan, atau konten yang sering diakses anak. Sesekali temani mereka saat online agar muncul kesempatan berdiskusi soal hal-hal yang ditemukan.
Semakin aktif anak di internet, semakin penting mengenalkan cara menjaga keamanan diri. Pendampingan bukan cuma mengawasi, tapi membekali anak agar mampu mengenali situasi berisiko.
Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dikenalkan sejak dini:
Internet Matters mencatat komunikasi terbuka antara orangtua dan anak membuat mereka lebih nyaman membicarakan pengalaman di internet. Anak juga perlu tahu bahwa ia boleh memblokir akun, melaporkan konten, atau minta bantuan saat merasa tidak aman.
Ada situasi yang butuh perhatian ekstra: anak tiba-tiba menarik diri, tampak cemas setelah online, atau menyembunyikan layar saat orangtua mendekat. Perubahan mood drastis dan enggan membahas aktivitas digitalnya juga patut dicurigai.
Jika tanda-tanda itu muncul, ajak anak bicara tanpa menghakimi. Bila perlu, konsultasikan dengan psikolog anak atau guru di sekolah untuk mendapat pandangan lain.
Tujuan digital parenting bukan membuat anak takut menjelajahi internet. Yang dibangun adalah kemampuan mereka memakai ruang digital dengan aman dan bertanggung jawab.
Dampingi dengan konsisten, bukan sekadar mengawasi. Dari kebiasaan itu, anak belajar mengikuti aturan sekaligus memahami cara memakai teknologi saat ia makin mandiri nanti.