BANTEN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 168,06 poin atau 2,76% ke level 5.921 pada perdagangan Senin (12/10/2026) pukul 13.45 WIB. Aksi jual mendominasi dengan nilai transaksi Rp8,22 triliun, menempatkan IHSG sebagai indeks dengan penurunan terdalam kedua di Asia setelah KOSPI Korea Selatan.
Tekanan jual di lantai bursa belum mereda hingga sesi siang. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 47,54 miliar lembar dengan frekuensi 1,28 juta kali transaksi. Dari seluruh emiten, hanya 107 saham yang mampu menguat, sementara 617 saham melemah dan 67 saham stagnan.
Rentang pergerakan IHSG hari itu terbentang dari level tertinggi 6.128 hingga terendah 5.921. Posisi 5.921 menjadi titik terlemah yang menyentuh ambang koreksi 3% dari puncak sebelumnya.
Data Bloomberg menunjukkan IHSG mencatat penurunan terdalam kedua di kawasan Asia, bersanding dengan KOSPI Korea Selatan. Artinya, tekanan tidak hanya bersifat domestik, melainkan bagian dari gelombang risk-off yang melanda pasar saham regional.
Investor asing dan domestik kompak melepas kepemilikan saham. Dominasi aksi jual terlihat dari rasio saham turun terhadap saham naik yang mencapai hampir 6 banding 1. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek jangka pendek.
Pelemahan merata di hampir seluruh sektor. Berikut rincian pergerakan saham pada sesi siang:
Level 5.921 yang tercapai siang ini menempatkan IHSG hanya sekitar 0,24 poin persentase lagi menuju koreksi 3% dari level penutupan sebelumnya. Jika tekanan berlanjut hingga penutupan, koreksi ini akan menjadi yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaku pasar mencermati apakah level 5.900 mampu bertahan sebagai support psikologis. Penembusan ke bawah level tersebut berpotensi memicu aksi jual lanjutan dari investor ritel maupun institusi.
Pelemahan IHSG sejalan dengan tren bursa regional Asia yang tertekan. KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan serupa, mengindikasikan adanya faktor makro global yang menekan aset berisiko di kawasan emerging markets.
Kombinasi sentimen eksternal dan aksi jual domestik memperkuat tekanan di lantai bursa. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global.
Bagi pemegang saham, koreksi tajam seperti ini membuka dua peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, harga saham beberapa emiten berfundamental kuat berpotensi masuk zona akumulasi. Di sisi lain, tekanan jual yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda menuntut kehati-hatian ekstra.
Perhatikan volume transaksi dan arah arus dana asing pada sesi penutupan. Jika net sell asing masih besar, tekanan diperkirakan berlanjut ke sesi berikutnya. Sebaliknya, jika volume jual mulai mengecil, potensi rebound teknikal terbuka lebar.