BANTEN — Pemerintah mempercepat revitalisasi lebih dari 200 titik museum, cagar budaya, keraton, istana, benteng, dan aset budaya lain di seluruh Indonesia sepanjang 2026. Percepatan ini menjadi salah satu poin utama pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (12/10/2026). Penataan tidak hanya menyentuh infrastruktur fisik, tetapi juga penyajian informasi dan pengalaman pengunjung.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon melaporkan progres revitalisasi aset budaya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tertutup di Istana Kepresidenan Jakarta. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan hasil pertemuan itu kepada wartawan usai agenda berlangsung.
Pemerintah menargetkan pembenahan menyeluruh, mulai dari bangunan bersejarah hingga situs yang selama ini kurang terawat. Selain perbaikan fisik, revitalisasi menyentuh cara museum menyajikan koleksi kepada publik.
Lebih dari 200 titik masuk daftar percepatan revitalisasi dan penataan sepanjang 2026. Cakupannya luas, tidak terbatas pada museum.
Daftar tersebut mencakup museum, cagar budaya, keraton, istana, benteng, dan aset budaya lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Angka ini menunjukkan skala penataan yang jauh lebih besar dibanding pembenahan bangunan tunggal.
"Percepatan revitalisasi dan penataan lebih dari 200 titik museum, cagar budaya, keraton, istana, benteng dan aset budaya lainnya di Indonesia sepanjang tahun 2026," ujar Teddy Indra Wijaya.
Pemerintah ingin museum tidak lagi sekadar deretan vitrin dan koleksi diam. Pemanfaatan teknologi digital dan pengalaman interaktif diharapkan mengubah cara pengunjung mengenal sejarah.
Pendekatan ini menyasar generasi muda yang selama ini dianggap kurang tertarik datang ke museum. Informasi sejarah dirancang lebih mudah dipahami dan menarik untuk diikuti.
"Pemanfaatan teknologi digital dan pengalaman interaktif untuk meningkatkan daya tarik museum, khususnya bagi generasi muda, sekaligus memperkuat pemahaman terhadap sejarah dan identitas bangsa," imbuh Teddy.
Bagi traveler, arah kebijakan ini berpotensi mengubah pengalaman berkunjung ke museum dan situs budaya di banyak kota. Penyajian yang lebih interaktif biasanya membuat durasi kunjungan lebih panjang dan lebih ramah untuk wisata keluarga.
Selain infrastruktur dan teknologi, Presiden menyoroti kapasitas sumber daya manusia pengelola museum. Kualitas pemandu, kurator, dan staf menjadi bagian dari penataan.
Pengembangan wisata budaya, sejarah, dan religi berjalan beriringan dengan upaya tersebut. Kebudayaan diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru yang manfaatnya dirasakan masyarakat sekitar destinasi.
"Penguatan kapasitas sumber daya manusia pengelola museum serta pengembangan wisata budaya, sejarah, dan religi sebagai bagian dari upaya menjadikan kebudayaan sebagai penggerak ekonomi baru," kata Teddy.
Kepala Negara menegaskan pelestarian warisan budaya adalah tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan sejarah dan identitas nasional. Revitalisasi wajib menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekarang dan generasi mendatang.
Dengan penataan ini, pemerintah berharap museum dan situs budaya semakin hidup, relevan, serta mudah diakses. Kekayaan budaya bangsa diposisikan sebagai sumber pembelajaran, penguatan jati diri, dan penggerak ekonomi.
Untuk wisatawan yang berencana berkunjung, jadwal buka dan tarif masuk tiap museum atau situs bisa berbeda dan dapat berubah selama masa penataan. Informasi terkini sebaiknya dikonfirmasi ke dinas pariwisata dan kebudayaan setempat atau kanal resmi pengelola sebelum berangkat.