BANTEN — Fontaines D.C. merilis Where Is Gone?, lagu kolaborasi bersama ROSALÍA yang menjadi single ketiga dari album Dopamine Chamber. Lagu ini menandai kolaborasi pertama band asal Irlandia tersebut dengan musisi lain dalam sebuah album. Album kelima mereka dijadwalkan meluncur pada 16 Oktober mendatang melalui XL Recordings.
Band yang terdiri dari Grian Chatten, Carlos O'Connell, Conor Curley, Conor Deegan, dan Tom Coll ini menghadirkan pendekatan berbeda lewat duet megah berbalut aransemen orkestra. Vokal Chatten berpadu dengan karakter vokal ROSALÍA, menciptakan warna baru bagi Fontaines D.C. Lagu ini digarap bersama produser James Ford.
Bagi Carlos O'Connell, keterlibatan ROSALÍA dalam Where Is Gone? menyimpan arti tersendiri. Dalam beberapa waktu terakhir, ia kembali mempererat hubungannya dengan akar budaya Spanyol.
"Saya sudah menjadi penggemar ROSALÍA sejak album debutnya, yang benar-benar indah," ujarnya.
Carlos menilai ROSALÍA mampu mempertahankan tradisi musik Spanyol lewat karya-karyanya. Semangat itu iaanggap sejalan dengan upaya Fontaines D.C. menjaga warisan musik Irlandia.
"Secara spiritual, hal itu terasa sejalan dengan apa yang kami usahakan lewat musik Irlandia. Bagi seseorang yang memiliki akar di kedua negara, menyaksikan hal itu terasa istimewa. Sejak awal, ia selalu menjadi artis yang membuat saya takjub di setiap tahap perjalanan kariernya," kata Carlos.
Dopamine Chamber menyusul Romance (2024) yang telah meraih sertifikasi platinum di Inggris. Kali ini, Fontaines D.C. menjauh dari karakter gitar yang mendominasi karya-karya awal mereka. Materi baru ini memadukan melodi kuat, nuansa gelap, dan aransemen yang lebih luas.
Sebelum Where Is Gone?, band telah memperkenalkan Marianne dan Tongue. Ketiga lagu tersebut memberi gambaran soal arah musikal album kelima mereka. Dopamine Chamber digambarkan seperti kumpulan bintang yang muncul di balik kabut asap, dengan balada kuat dan melodi antemik sebagai titik terang di tengah suasana muram.
Album ini mengangkat pertanyaan soal hubungan manusia dengan kenikmatan di tengah situasi dunia yang kian tak menentu. Fontaines D.C. menelusuri bagaimana keinginan memperoleh kesenangan berubah saat manusia menghadapi berbagai ancaman.
"Album ini sendiri adalah sebuah ruang dopamin. Kalian masuk ke dalamnya, lalu kami menguji berbagai karya musik yang dapat mengubah pikiran atau suasana hati kalian," ujar Grian Chatten.
Sejak debut lewat Dogrel (2019), Fontaines D.C. dikenal menghindari pengulangan formula musikal. Mereka melewati sejumlah fase melalui A Hero's Death (2020), Skinty Fia (2022), hingga Romance (2024). Skinty Fia menduduki posisi puncak tangga album di Inggris dan Irlandia.
Dopamine Chamber disebut sebagai perubahan paling radikal band tersebut. Proses pengerjaannya berlangsung di London, kawasan pedesaan Inggris, serta Palermo, Italia. Di Palermo, Chatten merekam vokalnya di sebuah bilik darurat yang dibuat dari kasur dan bantal.
Chatten mengaku album ini mencerminkan kegelisahan terhadap perubahan besar yang tengah dihadapi umat manusia.
"Ada perasaan yang menyentuh sekaligus getir bahwa kita berada di ambang bentuk kemanusiaan lain—atau bahkan non-kemanusiaan," ujarnya.
Melalui album kelimanya, Fontaines D.C. membangun ruang untuk menguji bagaimana musik dapat memengaruhi pikiran, emosi, dan pengalaman pendengar. Respons setiap pendengar menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dihadirkan band ini.