BANTEN — Gunung Semeru di Jawa Timur kembali erupsi pada Sabtu (17/10/2026) pukul 19.07 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak. Status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih berada di Level III (Siaga), dan erupsi dilaporkan masih berlangsung saat laporan dibuat. Dalam sepekan terakhir, gunung setinggi 4.176 meter di atas permukaan laut ini tercatat sudah 48 kali erupsi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia melaporkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah barat daya. Pengamatan kegempaan pada 17 Oktober 2026 pukul 12.00-18.00 WIB mencatat 25 kali gempa letusan dengan amplitudo 10-22 milimeter dan durasi 58-138 detik.
Selain gempa letusan, terpantau 6 kali gempa guguran beramplitudo 3-6 milimeter dengan durasi 48-94 detik. Ada pula 5 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4-8 milimeter dan lama gempa 44-73 detik.
PVMBG meminta tidak ada aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar jarak itu, warga diminta menjauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Larangan tersebut berlaku karena kawasan sempadan sungai berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Bagi traveler yang punya rencana mendaki atau berkemah di sekitar Semeru, jalur dan area terdampak aturan ini sebaiknya dihindari sampai status diturunkan.
Sepanjang tahun 2026, MAGMA Indonesia merekam 5.160 letusan gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru menempati posisi teratas dengan 2.006 kali letusan.
Angka itu menjadikan Semeru sebagai gunung paling aktif erupsi di Indonesia tahun ini, jauh di atas gunung api lain. Frekuensi letusan yang tinggi membuat pemantauan status dilakukan berkala, dan informasi terbaru bisa dicek langsung lewat aplikasi MAGMA Indonesia.
Bagi yang tetap ingin menikmati kawasan Semeru, pilih aktivitas di luar zona bahaya dan konfirmasi kondisi terkini ke dinas pariwisata atau pos pendakian setempat. Durasi kunjungan sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan status gunung, mengingat erupsi masih berlangsung saat laporan ini dibuat.