BANTEN — Angka ini nyaris tidak pernah muncul di ruang pamer. Sepanjang 2025, Indonesia mengapalkan 518.212 unit mobil utuh ke lebih dari 100 negara — rekor tertinggi sepanjang sejarah industri otomotif nasional. Pencapaian ini melampaui capaian 2024 yang tercatat 472.194 unit, atau tumbuh 9,7 persen secara tahunan.
Yang membuat angka ini menarik bukan sekadar volumenya. Komposisi pemainnya memperlihatkan peta kekuatan yang timpang: merek Jepang mendominasi hampir sembilan dari sepuluh unit yang diekspor, sementara merek China yang gencar masuk pasar domestik justru nyaris tidak terlihat di jalur ekspor.
Rekor Sepuluh Tahun: dari 194 Ribu ke Setengah Juta Unit
Kalau ditarik ke belakang, pertumbuhan ekspor CBU Indonesia tergolong agresif. Pada 2016, volume ekspor hanya 194.395 unit. Lima tahun kemudian, saat pandemi menghantam, angka itu sempat turun ke 232.175 unit pada 2020.
Pemulihan berlangsung cepat. Tahun 2021 ekspor kembali ke 294.639 unit, lalu meledak menjadi 473.602 unit pada 2022. Setelah menembus setengah juta unit pada 2023 (505.134 unit) dan tergelincir ke 472.194 unit pada 2024, tahun lalu kembali mencatatkan rekor baru. Dalam sepuluh tahun, volumenya naik sekitar 2,7 kali lipat.
Peta Pemain: Toyota Terbesar, China Nyaris Nol
Berikut rincian ekspor CBU per merek sepanjang 2025:
- Toyota: 175.446 unit
- Daihatsu: 124.848 unit
- Mitsubishi Motors: 105.079 unit
- Hyundai: 54.175 unit
- Suzuki: 30.636 unit
- Honda: 17.126 unit
- Isuzu: 8.000 unit
- Wuling: 1.679 unit
- Chery: 745 unit
- Hino: 434 unit
- DFSK: 44 unit
Total merek Jepang mencapai 461.569 unit atau 89,1 persen. Merek China hanya 2.468 unit — setara 0,48 persen dari total ekspor nasional. Jarak keduanya terlalu lebar untuk disebut persaingan.
Komponen: Toyota Kuasai 90 Persen, China Nol
Mobil utuh hanya separuh cerita. Ekspor komponen pada 2025 mencapai 141.912.643 keping. Toyota sendirian menyumbang 127.952.081 keping atau 90,2 persen. Honda menyusul dengan 12.891.950 keping, disusul Hino 978.412 keping, Hyundai 68.408 keping, dan Suzuki 21.792 keping.
Empat dari lima merek Jepang menguasai 99,95 persen ekspor komponen. Tidak ada satu pun merek China yang masuk daftar ini.
Nilai Ekspor Tembus Rp 216 Triliun
Gabungan Indonesia Automobile Manufacturers Association (GIAMM) mencatat nilai ekspor mobil utuh melampaui USD7 miliar atau sekitar Rp124,6 triliun, dengan proyeksi menembus USD8 miliar atau Rp142,4 triliun. Pasar tujuan utama meliputi Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor "kendaraan dan bagiannya" sepanjang 2025 sekitar USD12,18 miliar atau Rp216,8 triliun. Angka ini setara 4,3 persen dari total ekspor nasional yang mencapai USD282,91 miliar.
Rincian Toyota: SUV dan Elektrifikasi Jadi Andalan
Toyota mengapalkan 298.457 unit dari Indonesia sepanjang 2025, naik 8 persen dari 276.089 unit pada periode sebelumnya. Porsi Toyota setara hampir 60 persen dari total ekspor CBU nasional.
- SUV (Fortuner, Rush, Raize, Yaris Cross): 139.552 unit
- MPV (Kijang Innova Zenix, Avanza, Veloz): 81.905 unit
- Hatchback (Agya): 33.675 unit
- Komersial (Town/Lite Ace): 20.475 unit
- Elektrifikasi (Zenix HEV, Yaris Cross HEV): 22.868 unit, naik 23 persen dari 18.553 unit
Yang Perlu Diperhatikan
- Ketergantungan pada satu grup pemain sangat tinggi — Toyota dan Daihatsu bersama menyumbang sekitar 58 persen dari seluruh ekspor CBU. Gangguan di satu pabrik bisa langsung menggeser angka nasional.
- Merek China yang agresif di pasar domestik belum menerjemahkan strategi itu ke jalur ekspor. Total 2.468 unit dari Wuling, Chery, dan DFSK terlalu kecil untuk disebut basis produksi ekspor.
- Porsi ekspor terhadap total produksi nasional masih perlu dicermati — 518.212 unit terlihat besar, tetapi harus dibandingkan dengan kapasitas produksi tahunan yang jauh lebih tinggi.
- Angka elektrifikasi 22.868 unit memang naik 23 persen, tetapi masih di bawah 5 persen dari total ekspor CBU. Transisi ke elektrifikasi di jalur ekspor berjalan lambat.