Pencarian

Anemia pada Anak Masih Tinggi, IDAI Soroti Kekurangan Zat Besi

Rabu, 07 Oktober 2026 • 09:36:01 WIB
Anemia pada Anak Masih Tinggi, IDAI Soroti Kekurangan Zat Besi
Anemia pada anak dan remaja masih menjadi masalah gizi di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bekasi.

BANTEN — Anemia pada anak dan remaja masih jadi masalah gizi yang belum tuntas di Indonesia, termasuk di wilayah Jakarta dan Bekasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti defisiensi zat besi sebagai pemicu utamanya, terutama pada bayi dan remaja yang sedang tumbuh cepat.

Kebutuhan zat besi paling tinggi terjadi pada dua kelompok usia: bayi dan remaja. Pada masa itu, tubuh mengalami percepatan pertumbuhan sehingga asupan zat besi harus benar-benar diperhatikan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar urusan kesehatan individu. Defisiensi zat besi berkaitan erat dengan kualitas sumber daya sebuah negara.

"Jadi memang penting sekali kita melihat bahwa betapa defisiensi zat besi berkaitan dengan ekonomi sebuah negara. Karena kebutuhan besi itu memang banyak terdapat pada protein hewani," kata Murti dalam konferensi pers daring, Selasa (6/10/2026).

Protein Hewani Jadi Kunci Sejak MPASI

Sumber zat besi terbaik berasal dari protein hewani seperti telur, hati, dan daging merah. Murti menyarankan pemberian makanan ini dimulai sejak bayi memasuki masa MPASI.

"Ketika orang tua sejak awal sudah bisa memberikan protein hewani seperti telur, hati, daging merah kepada bayi-bayi pada saat mereka mulai untuk mendapatkan MPASI, akan memberikan zat besi yang sangat tinggi," ujarnya.

Semakin dini anak mengenal protein hewani, semakin besar peluang mencegah anemia di kemudian hari. Ini bukan soal porsi besar, tapi konsistensi sejak awal.

Anemia Bisa Muncul Sejak Bayi 4 Bulan

Data IDAI menunjukkan anemia sudah dapat ditemukan pada bayi berusia 4 bulan. Prevalensinya berada di kisaran 20-30 persen, lalu meningkat hingga sekitar 40 persen pada usia 9-12 bulan.

Sementara itu, defisiensi besi tanpa anemia mencapai sekitar 30 persen. Pada usia 9 bulan, anemia defisiensi besi berada di kisaran 20-25 persen dan terus meningkat pada usia berikutnya.

"Jadi penyebab anemia itu yang terbanyak adalah defisiensi besi. Sehingga kalau kita mau menurunkan angka kejadian anemia, yang utama prioritasnya adalah mengatasi defisiensi besi," jelas Murti.

Defisiensi zat besi menyumbang sekitar 30-50 persen dari keseluruhan kasus anemia. Artinya, memperbaiki asupan besi adalah langkah paling strategis untuk menekan angka anemia pada anak.

Anak Sekolah dan Remaja Juga Rentan

Penelitian IDAI di wilayah Jakarta dan Bekasi menemukan anemia masih ada pada kelompok usia sekolah hingga remaja. Pada anak usia 6-12 tahun, sekitar 14 persen mengalami anemia.

Angka tersebut tercatat 13,1 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan sekitar 10 persen pada usia 10-21 tahun. Sementara prevalensi defisiensi besi mencapai 14,8 persen pada anak usia 6-12 tahun.

Defisiensi besi meningkat menjadi 18,8 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan 20 persen pada usia 10-21 tahun. Temuan ini menunjukkan masalah kekurangan zat besi tidak berhenti saat anak lepas dari masa bayi.

Kenali Gejala dan Kapan Perlu Waspada

Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah batas normal untuk kelompok usia tertentu. Hemoglobin berperan membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.

Ketika kadarnya menurun, kondisi klinis anak bisa terpengaruh. "Jadi kalau misalnya Hb-nya turun tentu akan berdampak juga pada yang mengidap anemia. Jadi akan terlihat kalau misalnya kita dulu ada lelah, lemah, letih," pungkasnya.

Jika anak tampak mudah lelah, lemah, atau kurang bersemangat dalam aktivitas sehari-hari, jangan langsung menganggapnya malas. Konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan kadar Hb dan status zat besi.

Menjaga asupan protein hewani sejak MPASI hingga usia sekolah adalah cara paling praktis mencegah anemia. Mulai dari telur di pagi hari, hati ayam beberapa kali seminggu, sampai daging merah di menu harian.

Follow kabarcilegon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks