TANGSEL — Kepala Bidang Air Minum dan Air Limbah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangerang Selatan, R. Budi Firmansyah, menyatakan WTP yang dikelola PT Alpha itu belum memiliki izin pengelolaan air sejak berdiri. Pemerintah daerah sudah menempuh jalur kerja sama antara pengelola WTP dan Perseroda Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS) untuk mengurus perizinan tersebut.
"Perseroda PITS sudah beberapa kali bertemu dengan pihak pengelola maupun pengembang untuk membahas kerja sama tersebut. Namun, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan bersama," ujar Budi, Kamis 15 Oktober 2026.
Ratusan Warga Setu Terdampak, 145 Orang Tercatat dalam Sepekan
Keluhan kesehatan warga mulai dilaporkan pada malam 7 Oktober 2026. Sehari kemudian, jumlah warga bergejala tercatat 27 orang, lalu melonjak menjadi 137 orang pada 10 Oktober dan 145 orang pada 12 Oktober. Pendataan berikutnya menunjukkan total warga terdampak mencapai 161 orang.
Gejala yang dialami warga meliputi diare, mual, muntah, dan demam. Kasus ini diduga berkaitan dengan kualitas air yang didistribusikan ke rumah-rumah warga di kawasan tersebut.
Kandungan E. Coli Capai 900 pada Sampel Air Warga
Camat Setu, Bunga Pranatalia Putri, mengatakan hasil pemeriksaan sampel air menemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam jumlah tinggi. Pada sejumlah sampel air milik warga, angka yang dilaporkan mencapai 900.
Indikasi pencemaran sudah terendus sejak 16 September 2026, ketika Puskesmas Keranggan menerima laporan soal kondisi air yang keruh. Pemeriksaan awal terhadap air keran warga kala itu sudah menunjukkan hasil positif E. coli.
Dugaan Wabah Bersumber Sama dan Berkelanjutan
Dinas Kesehatan Tangsel bersama Puskesmas Keranggan dan lintas sektor melakukan penyelidikan epidemiologi. Petugas mendatangi rumah warga, mewawancarai pasien, dan mengambil sampel air untuk diperiksa.
Petugas menduga kejadian ini merupakan continuous common source outbreak, yakni wabah yang berkaitan dengan paparan sumber yang sama secara berkelanjutan. Air WTP menjadi salah satu sumber yang dicurigai karena dipakai warga untuk mencuci, menyikat gigi, dan sebagian untuk memasak.
Warga Diminta Setop Pakai Air, Dinkes Minta Klorinasi Dioptimalkan
Untuk mencegah bertambahnya kasus, warga diimbau tidak menggunakan air yang belum dipastikan aman untuk minum, memasak, menyikat gigi, maupun keperluan lain yang berisiko membuat air tertelan.
Dinas Kesehatan juga merekomendasikan penyediaan pasokan air bersih alternatif, pembersihan dan disinfeksi instalasi, optimalisasi klorinasi, serta pemeriksaan laboratorium terhadap kualitas air. Pemeriksaan jaringan perpipaan turut diperlukan untuk mengidentifikasi kemungkinan kebocoran yang dapat menyebabkan kontaminasi.