PANDEGLANG — Peluncuran dua program itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kecamatan Menes. Iing menilai peringatan Hari Santri tidak cukup berhenti sebagai agenda seremonial. Momentum tersebut, menurutnya, harus dipakai memperkuat peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk generasi muda yang berilmu, disiplin, dan berakhlak baik.
Dua program yang diluncurkan adalah Menes Sigap Pelajar dan Menes Magrib Mengaji. Keduanya diarahkan merespons meningkatnya penggunaan teknologi digital oleh anak dan remaja, yang dinilai ikut mendorong perilaku menyimpang di kalangan pelajar.
Menes Sigap Pelajar, Sistem Integrasi Pencegahan Kenakalan Remaja
Camat Menes Usep Sudarmana menjelaskan, Menes Sigap Pelajar merupakan singkatan dari Sistem Integrasi Gerakan Pencegahan dan Penanganan Kenakalan Pelajar. Program ini dirancang sebagai upaya bersama merespons kekhawatiran masyarakat terhadap perilaku menyimpang remaja.
"Ini bukan lagi soal imbauan, ini adalah sistem integrasi. Kita membangun benteng perlindungan berlapis agar tidak ada celah bagi anak-anak kita terjerumus dalam kenakalan pelajar," kata Usep.
Usep menegaskan sekolah dan lingkungan masyarakat perlu menjadi ruang aman bagi anak. Keduanya juga harus mendukung pencegahan berbagai pengaruh negatif dalam pergaulan.
Magrib Mengaji, Ajakan Mematikan Ponsel Saat Azan Berkumandang
Program kedua, Menes Magrib Mengaji, mengajak orang tua membiasakan anak mengisi waktu setelah Magrib dengan membaca Al-Qur'an dan mengikuti kegiatan keagamaan. Usep menilai penggunaan telepon genggam yang tidak terkontrol mengurangi waktu anak berinteraksi dengan keluarga dan mengikuti kegiatan keagamaan.
"Realitas hari ini menyedihkan; ruang tamu sepi, masjid kosong, dan anak-anak sibuk membusbus dunia digital saat azan berkumandang. Kami ingin membalikkan keadaan itu, saat magrib tiba, matikan ponsel," ujarnya.
Masyarakat diajak menghidupkan kembali kegiatan mengaji di masjid, musala, dan majelis taklim. Guru mengaji serta tokoh agama setempat diminta ikut terlibat.
Generasi Otaknya Modern, Hatinya Tetap Santri
Iing menyebut santri berperan penting dalam pembangunan bangsa, bukan hanya di bidang keagamaan. Santri juga dinilai ikut membentuk generasi muda yang berilmu, berakhlak mulia, disiplin, dan cinta Tanah Air.
"Hari Santri abad ke-21 harus dijawab dengan aksi nyata membentengi moralitas anak bangsa yang kini compang-camping akibat gempuran budaya digital dan degradasi akhlak. Kita tidak boleh menutup mata, tantangan zaman hari ini jauh lebih kompleks," katanya.
Ia berharap semangat santri dalam menuntut ilmu dan mengamalkan nilai keislaman terus tumbuh. Nilai-nilai itu diharapkan menjadi bekal generasi muda berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.
"Kita ingin melahirkan generasi yang otaknya modern, namun hatinya tetap santri, disiplin, berakhlak mulia, dan punya integritas," ujarnya.
Keberhasilan Program Bergantung Keterlibatan Sekolah dan Orang Tua
Iing menekankan pentingnya komitmen bersama agar kedua program berjalan berkelanjutan. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan sekolah, tokoh agama, orang tua, dan lingkungan masyarakat.
Peluncuran Menes Sigap Pelajar dan Menes Magrib Mengaji diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat pembinaan generasi muda di Kecamatan Menes. Konsistensi pelaksanaan serta dukungan keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi penentu keberhasilannya.