JAKARTA — Tekanan jual kembali menghantam pasar saham domestik pada awal pekan ini. IHSG yang sempat dibuka menguat di awal sesi tak mampu bertahan dan terseret ke zona merah hingga penutupan perdagangan Senin (24/8) sore.
Indeks LQ45 turut terkikis 0,41 persen ke posisi 641,95, seiring pelemahan yang terjadi di hampir seluruh sektor saham.
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 membengkak hingga 12,5 miliar dolar AS, atau setara 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Menyusutnya surplus perdagangan barang serta melonjaknya tagihan impor energi menjadi faktor fundamental yang memperlebar celah defisit. Kondisi ini memicu kecemasan pelaku pasar terhadap ketahanan eksternal ekonomi nasional.
Pelemahan IHSG beriringan dengan arah bursa kawasan Asia yang kompak menghijau. Investor regional memilih meredam risiko menjelang pengumuman penting dari otoritas keuangan Amerika Serikat terkait eskalasi sanksi terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers mengenai rencana sanksi tambahan terhadap Teheran. Meski Iran menyatakan langkah tersebut tidak akan melemahkan posisinya, pasar tetap bersikap hati-hati.
Selain ketegangan Washington-Teheran, pelaku pasar juga menanti agenda Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25–28 Agustus 2026. Pasar berburu sinyal stimulus baru setelah serangkaian data ekonomi Beijing tampil mengecewakan.
Di kawasan, Indeks Kospi Korea Selatan anjlok paling dalam 3,12 persen. Disusul Hang Seng Hong Kong yang merosot 1,89 persen, Nikkei Jepang terkikis 0,69 persen, Shanghai China turun 0,59 persen, dan Straits Times Singapura melemah tipis 0,15 persen.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan dari sebelas sektor terkoreksi pada penutupan sore ini. Sektor kesehatan menjadi penekan utama setelah jatuh paling dalam sebesar 2,3 persen, disusul sektor properti yang melemah 1,27 persen dan sektor keuangan minus 0,86 persen.
Hanya dua sektor yang berhasil mencatatkan penguatan, yakni sektor barang baku yang naik 1,21 persen dan sektor industri yang menguat tipis 0,15 persen.
Di pasar reguler, sejumlah saham mencatatkan penguatan terbesar di antaranya PICO, ELIT, SAFE, EKAD, dan CENT. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain MEJA, ICON, MPRO, SDMU, dan CBTN.
Para analis menilai sentimen negatif dari dalam negeri masih akan membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Pelaku pasar direkomendasikan mencermati perkembangan data makroekonomi domestik serta kebijakan bank sentral global sebelum mengambil posisi.