BANTEN — Jakarta — Pemerintah menaruh harapan besar pada Perhimpunan Ahli Metalurgi Indonesia (PROMETINDO) untuk ikut mengawal perubahan arah industri mineral dalam negeri. Dari sekadar mengekstraksi sumber daya, Indonesia kini dituntut bergerak ke pengembangan industri bernilai tambah. Dalam pengarahan utamanya secara daring, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut organisasi profesi ini punya posisi strategis untuk memastikan transformasi tersebut berjalan dengan fondasi teknologi dan SDM nasional.
Tri menekankan setidaknya tiga hal yang perlu diperkuat PROMETINDO ke depan. Pertama, penguasaan teknologi metalurgi secara mandiri. Tanpa itu, Indonesia akan terus bergantung pada lisensi asing dan tenaga ahli dari luar negeri.
Kedua, penegakan standar profesionalisme dan etika profesi. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta kelestarian lingkungan harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan pelengkap.
Ketiga, mendorong akselerasi hilirisasi secara selektif, terutama pada komoditas mineral kritis. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat struktur industri domestik agar tidak rapuh terhadap gejolak pasar global.
Dalam konteks tata kelola pertambangan, Tri memaparkan lima agenda strategis yang perlu menjadi perhatian bersama. Kelimanya adalah ketahanan energi, hilirisasi lanjutan, tata kelola transparan, responsible mining, dan transisi berkeadilan.
Menurutnya, kelima agenda itu bisa menjadi ruang kontribusi bagi PROMETINDO untuk menghadirkan perspektif dan rekomendasi berbasis keahlian metalurgi.
"Melalui Kongres Nasional 2026 ini, saya berharap PROMETINDO melahirkan kepemimpinan baru yang visioner serta rekomendasi strategis yang aplikatif bagi negara," ujar Tri.
Pada aspek hilirisasi, Tri menegaskan pengolahan mineral tidak boleh berhenti pada produk mentah atau setengah jadi. Industri perlu didorong menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi hingga menjadi produk akhir.
Sementara itu, tata kelola transparan harus diperkuat lewat pengelolaan produksi, perizinan, data, dan pengawasan. Penerapan responsible mining dan transisi berkeadilan juga harus memastikan transformasi industri tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Tri berharap PROMETINDO mampu menghadirkan profesional metalurgi yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami kebutuhan industri, lingkungan, dan kepentingan masyarakat.
"Hilirisasi memberikan arah, inovasi memberikan kemampuan bersaing, dan keberlanjutan memberikan legitimasi bagi industri pertambangan untuk tumbuh," kata Tri.
Ia menegaskan kekayaan mineral Indonesia harus diarahkan menjadi fondasi pembangunan industri jangka panjang.
"Mari memastikan kekayaan mineral bukan hanya kekuatan ekonomi hari ini, melainkan fondasi kemajuan Indonesia di masa depan," pungkasnya.
Kongres Nasional PROMETINDO 2026 menjadi momentum bagi organisasi profesi ini untuk merumuskan arah baru. Seiring hilirisasi yang makin menjadi arus utama kebijakan minerba, kemampuan metalurgi nasional akan menentukan seberapa jauh Indonesia bisa naik kelas dari pengekspor bahan mentah menjadi pemain industri bernilai tambah.