KABARCILEGON.COM — Suara dentuman dan hujan abu vulkanik tipis melanda kawasan permukiman pesisir Banten akibat rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api memastikan status aktivitas vulkanik berada di Level III Siaga tanpa adanya potensi gelombang tsunami. Masyarakat pesisir diminta tidak panik sekaligus mematuhi batas aman berjarak 3 kilometer dari kawah aktif.
Suara gemuruh disertai dentuman keras terdengar berulang kali melintasi batas perairan hingga kawasan pesisir Banten dan Lampung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang melaporkan suara letusan tersebut terdengar jelas hingga permukiman warga di Kecamatan Sumur.
Aktivitas melaut nelayan di kawasan pesisir selatan Banten tersebut juga sempat terhenti. Selain ancaman lontaran material erupsi, angin kencang yang melanda perairan membuat para nelayan memilih menambatkan perahu di dermaga.
Intensitas Erupsi Tertinggi Sepanjang 2026
Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami fase erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23:07 WIB hingga Sabtu pagi, 6 September 2026. Rangkaian letusan ini menjadi aktivitas vulkanik dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.
Jenis erupsi yang terjadi didominasi lontaran pancaran lava atau lava fountain dari lubang kawah. Dalam rentang periode pengamatan pukul 00:00 hingga 06:00 WIB, seismograf mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter selama durasi 21.600 detik.
Meskipun intensitas letusan tercatat sangat tinggi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan tingkat aktivitas tetap bertahan di Level III Siaga. Status Level III Siaga tersebut sudah berlaku sejak 2 Juli 2026, dengan akumulasi kejadian letusan melampaui 240 kali kejadian.
Kamera CCTV Pemantau Rusak Terkena Material Erupsi
Dahsyatnya hempasan material pijar berdampak langsung pada fasilitas teknis pemantauan di sekitar puncak. Sejumlah perangkat pengamatan, termasuk kamera CCTV yang berada di dekat bibir kawah, dilaporkan rusak akibat hantaman batuan dan material vulkanik.
Kondisi ini membatasi proses pengawasan visual kawah secara real time dari pos pantau. Tim vulkanologi kini mengandalkan rekaman data kegempaan serta instrumen seismik yang masih berfungsi optimal untuk membaca dinamika magma di dalam perut gunung.
PVMBG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Petugas Pengamat Gunung Api Anak Krakatau Muhammad Dika Nurzaman mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan. Warga maupun wisatawan dilarang keras mendekati area kawah dalam radius rekomendasi 3 kilometer. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," kata petugas pengamat Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman.
PVMBG juga menegaskan peristiwa letusan kali ini tidak memicu bahaya gelombang pasang di sepanjang garis pantai Selat Sunda. Risiko munculnya tsunami dinilai sangat kecil atau bahkan nyaris tidak ada mengingat dimensi fisik tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini relatif kecil.