SERANG — Modernisasi sektor pertanian di Provinsi Banten memasuki babak baru melalui peluncuran program Penerapan Modernisasi Pertanian (PM-AAS) di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Proyek percontohan ini menyasar 100 hektare lahan sawah dengan melibatkan 90 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani, yakni Poktan Sri Bunga Ambon 1, Sri Bunga Ambon Jaya, Sri Mekar, dan Masyarakat Guyub 1.
Target ambisius ditetapkan dalam program ini, yakni produktivitas sebesar 10 ton per hektare. Angka tersebut melampaui rata-rata hasil panen konvensional melalui penerapan teknologi pertanian terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Penanaman perdana dilakukan pada Rabu (6/5/2026) dengan menggunakan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) yang ditarik oleh traktor roda dua.
Pelaksanaan PM-AAS di Banten mengusung enam prinsip utama yang menitikberatkan pada mekanisasi dan efisiensi sumber daya. Salah satu inovasi yang menonjol adalah penggunaan drum seeder untuk sistem Tabela. Metode ini diklaim mampu menghemat waktu dan tenaga kerja secara signifikan karena petani tidak perlu lagi melewati tahap persemaian dan pindah tanam.
Selain mekanisasi alat berat seperti traktor, rotavator, dan combine harvester, program ini juga mengandalkan teknologi digital. Pengaturan air irigasi dilakukan secara presisi untuk mengoptimalkan distribusi, sementara penggunaan drone dikerahkan untuk efektivitas pemeliharaan tanaman. Pendekatan spesifik lokasi pada lahan datar di Kasemen dipilih agar pengaturan air dan mobilisasi mesin dapat berjalan maksimal.
"Adanya modernisasi dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi dan kesejahteraan petani," ujar Gubernur Banten Andra Soni saat menghadiri penanaman perdana tersebut. Ia menekankan bahwa penguatan sektor pangan sangat krusial mengingat posisi strategis Banten saat ini.
Saat ini, Provinsi Banten tercatat menempati urutan ke-8 sebagai produsen padi nasional. Gubernur Andra Soni berharap program modernisasi ini menjadi katalisator bagi Banten untuk naik kelas dan semakin kokoh sebagai penyangga pangan nasional. Menurutnya, kesejahteraan petani hanya bisa dicapai jika biaya operasional ditekan melalui teknologi, sementara hasil panen terus meningkat.
Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Husnain, menyatakan bahwa Banten merupakan satu dari 15 lokasi di Indonesia yang menjadi titik uji coba PM-AAS. Jika pilot project di Kasemen ini terbukti sukses mendongkrak produksi, Kementerian Pertanian berencana menjadikannya sebagai model nasional untuk diterapkan di wilayah lain.
Plt. Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten, Andry Polos, menambahkan bahwa implementasi program ini berbasis korporasi skala luas. Manajemen dikelola secara profesional untuk memastikan seluruh tahapan, mulai dari penyediaan benih hingga penanganan pascapanen, berjalan sesuai standar industri.
Guna mendukung keberhasilan program, pemerintah juga menyalurkan sejumlah bantuan fisik kepada para petani di lokasi tersebut. Bantuan meliputi 10 ton benih dari Ditjen Tanaman Pangan serta penambahan kuota pupuk subsidi jenis NPK dan Urea. Terdapat pula skema kerja sama dengan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) berupa pemberian 2 ton Petroganik gratis untuk setiap penebusan 1 ton pupuk oleh petani.
Dukungan sektor swasta turut memperkuat program ini melalui penyediaan herbisida pra-tumbuh dan pupuk organik cair. Wakil Walikota Serang, Nur Agis Aulia, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyambut baik kolaborasi lintas instansi ini. Integrasi antara penyuluh lapangan, dinas ketahanan pangan, dan dukungan aparat keamanan diharapkan mampu memastikan target 10 ton per hektare di Kecamatan Kasemen tercapai tepat waktu.