Kepala Dinkes Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni menyatakan pihaknya telah mensosialisasikan panduan pencegahan ke 39 puskesmas dan rumah sakit di wilayahnya. Virus yang ditularkan melalui kotoran, urine, hingga air liur tikus ini disebut bisa menyebabkan gangguan serius jika tidak ditangani cepat.
Dini menjelaskan gejala Hantavirus muncul dalam rentang satu hingga delapan pekan setelah terpapar. Tahap awal ditandai demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan tubuh lemas.
"Hantavirus dianggap sangat berbahaya karena dapat menginfeksi saluran pernapasan sampai ginjal manusia," kata Dini di Tangerang, Rabu. Pada kasus berat, infeksi bisa berujung pada sesak napas hingga gagal ginjal.
Pemerintah Kota Tangerang menekankan kebersihan lingkungan sebagai benteng utama. Warga diminta memastikan tidak ada tikus bersarang di rumah, got, atau tempat penyimpanan makanan.
"Pemkot Tangerang menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus," ujar Dini. Langkah ini dinilai paling efektif karena pola penularan Hantavirus mirip leptospirosis, yakni melalui perantara tikus di lingkungan dengan sanitasi buruk pascabanjir.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memastikan 23 kasus Hantavirus yang terdeteksi di Indonesia sejak 2023 merupakan varian ringan. Varian ini disebut "Hanta Fever Renal Syndrome" dengan tingkat kematian sekitar 15 persen.
Angka itu jauh di bawah varian "Pulmonary Syndrome" yang fatalitasnya mencapai 60-80 persen. Varian mematikan itu sebelumnya ditemukan di kapal pesiar MV Hondius dan belum terdeteksi masuk ke Indonesia.
"Di Indonesia sudah ketemu 23 kasus dari tahun 2023, tapi semuanya adalah 'Hanta Fever Renal Syndrome' yang ringan. Kalau Hantavirus yang kayak ditemukan di kapal pesiar itu, di Indonesia belum masuk," jelas Dante.
Dinkes Kota Tangerang meminta setiap faskes aktif menanyakan riwayat perjalanan pasien yang datang dengan gejala demam dan gangguan pernapasan. Langkah ini untuk mempercepat deteksi dini jika ada kasus impor dari negara endemis.
Masyarakat diimbau tidak panik namun tetap waspada. Jika mengalami gejala setelah bepergian ke luar negeri atau tinggal di lingkungan yang banyak tikus, segera periksa ke puskesmas terdekat.