Prabowo dan Presiden Jerman Steinmeier Perkuat Kemitraan, Rujuk Deklarasi Jakarta 2012

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Senin, 15 Juni 2026 | 18:55:01 WIB
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menegaskan kembali kemitraan strategis di Istana Merdeka.

BANTEN — Pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (15/6) menghasilkan penegasan kembali komitmen strategis kedua negara. Steinmeier secara spesifik merujuk pada Deklarasi Jakarta yang dirilis pada 2012 sebagai pijakan hubungan yang mengikat kedua negara.

Deklarasi 2012 Jadi Rujukan di Tengah Konflik Global

Dalam keterangan pers bersama usai pertemuan, Steinmeier mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Indonesia kali ini memiliki bobot yang sangat kuat. Ia menilai kemitraan dengan Indonesia menjadi semakin berarti di tengah situasi global yang ditandai konflik di berbagai kawasan.

“Ini merupakan kemitraan antara kedua negara yang saling berkomitmen untuk dasar aturan hukum yang tetap. Dan itu menjadi ikatan antara kedua negara kita setidaknya sejak Deklarasi Jakarta tahun 2012,” tegas Steinmeier.

Deklarasi Jakarta 2012 merupakan dokumen yang menandai kemitraan strategis bilateral Indonesia-Jerman. Dokumen ini mencakup komitmen di bidang politik, ekonomi, serta kerja sama pembangunan yang berlandaskan pada tata kelola global yang inklusif.

Empat Bidang Prioritas Kerja Sama yang Diperdalam

Steinmeier menegaskan perlunya memperdalam kemitraan di empat bidang utama: iklim, pendidikan, penelitian, dan budaya. Ia menilai potensi kerja sama di sektor-sektor tersebut masih sangat besar dan belum tergarap secara maksimal.

“Anda sudah katakan betapa pentingnya keanekaragaman topik yang kita bicarakan dan betapa banyak perkembangannya selama beberapa tahun terakhir dan betapa besarnya potensi untuk bisa dikembangkan lagi,” ujar Steinmeier dalam pernyataan yang disampaikan di hadapan Prabowo.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dalam pertemuan tertutup, Prabowo turut menyoroti sejumlah peluang kerja sama yang belum terealisasi. Iklim menjadi salah satu sektor krusial mengingat Jerman merupakan salah satu pemimpin global dalam transisi energi dan teknologi hijau.

Sinyal Politik di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pertemuan kedua kepala negara ini juga mengirimkan sinyal politik yang jelas di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Jerman, sebagai motor ekonomi Uni Eropa, membutuhkan mitra di kawasan Indo-Pasifik yang stabil dan memiliki pengaruh regional.

Indonesia, dengan posisinya sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan anggota G20, menjadi mitra alami bagi Berlin. Penegasan terhadap Deklarasi Jakarta 2012 menjadi pengingat bahwa hubungan bilateral ini sudah berjalan lebih dari satu dekade dan terus diperbarui.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Istana mengenai tindak lanjut konkret dari pertemuan ini. Namun, penguatan kerja sama di bidang riset dan pendidikan tinggi diprediksi menjadi salah satu hasil yang akan segera diumumkan dalam waktu dekat.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: nasional.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top