TANGSEL — Sebanyak 30 peserta yang mayoritas adalah ibu-ibu aktif di lingkungan tempat tinggal dan anggota majelis taklim mendapat pembekalan khusus dari DP3AP2KB Kota Tangerang Selatan. Mereka dilatih tidak hanya mengelola tekanan pribadi, tetapi juga mampu memberikan pertolongan psikologis pertama bagi tetangga atau jemaah yang mengalami tekanan mental.
Dalam sosialisasi tersebut, para peserta diperkenalkan dengan metode Dukungan Psikologi Awal (DPA) yang mencakup tiga langkah sistematis. Pertama, tahap 'Lihat'—peserta diajarkan memastikan kondisi aman, mengidentifikasi kebutuhan mendesak, dan mengenali tanda-tanda distres pada seseorang.
Kedua, tahap 'Dengar'—peserta dilatih melakukan pendekatan secara empatik, mendengarkan aktif, dan memvalidasi perasaan individu yang sedang dalam kesulitan. Ketiga, tahap 'Hubungkan'—peserta diarahkan membantu memenuhi kebutuhan dasar, menghubungkan individu dengan keluarga atau teman terdekat, hingga merujuk ke layanan profesional jika diperlukan.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AP2KB Kota Tangsel, Irma Safitri, menekankan bahwa kemampuan mengelola stres menjadi faktor krusial dalam pencegahan kekerasan. Sasaran kegiatan ini adalah perempuan yang memiliki interaksi langsung dengan masyarakat.
“Kalau sudah tahu cara me-manage stres, kita tidak akan melakukan sebuah kekerasan. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi kesehatan mental dan dukungan psikologi awal kepada ibu-ibu yang sering berkaitan dengan jemaah atau tetangganya,” ujar Irma.
Sekretaris DP3AP2KB Kota Tangsel, dr. Enji Seppraliana, menambahkan bahwa pemberi bantuan tidak boleh mengambil alih masalah orang lain. Prinsip ini penting agar mereka yang membantu tidak ikut mengalami tekanan psikologis.
“Dukungan psikologi awal mencakup pemberian empati, kepedulian, dan mendengarkan aktif, serta mengarahkan ke profesional jika masalah tidak dapat ditangani sendiri. Penting untuk tidak mengambil alih masalah sehingga pemberi bantuan tidak ikut stres,” kata Enji.
DP3AP2KB Kota Tangerang Selatan berharap dengan semakin banyaknya warga yang terlatih, potensi kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dideteksi dan dicegah sejak dini melalui peran aktif masyarakat di lingkungan masing-masing.