BANTEN — Jaksa federal Amerika Serikat menuduh Wilkins bersama sejumlah pelaku lain yang belum terungkap identitasnya menjalankan skema ini selama dua tahun terakhir. Mereka mengunggah setidaknya lima game palsu ke Steam, toko game PC terbesar di dunia. Game-game itu bernama BlockBlasters, Dashverse, Lampy, Lunara, dan PirateFi.
Menurut dokumen tuntutan yang dikutip dari TechCrunch, FBI memperkirakan malware dari game-game tersebut berhasil menginfeksi sekitar 8.000 perangkat korban. Dari jumlah itu, para pelaku kemudian menyasar 80 dompet kripto spesifik untuk dicuri isinya.
Total kerugian yang berhasil dilacak mencapai 220.000 dolar AS. FBI menyebut angka ini bisa bertambah seiring penyelidikan yang masih berlangsung.
Investigasi FBI menemukan titik terang setelah mewawancarai salah satu pelaku lain yang belum disebutkan namanya. Orang tersebut mengaku bekerja sama dengan kelompok ini untuk menggalang dana operasional demi merilis dan memasarkan game-game palsu itu. Sebagai imbalannya, mereka mendapat jatah dari hasil curian kripto.
FBI kemudian mengidentifikasi satu akun kripto spesifik yang digunakan dalam skema ini. Dari akun itu, penyidik melacak pembelian beberapa kartu hadiah, termasuk untuk layanan pesan-antar makanan Uber Eats. Setelah mengeluarkan surat panggilan pengadilan ke Uber, penyidik menemukan bahwa kartu hadiah itu tertaut ke akun yang melakukan pengiriman ke alamat Wilkins. Di dunia maya, Wilkins dikenal dengan nama panggilan Sibel.eth.
Dengan bukti itu, pengadilan mengeluarkan surat perintah penggeledahan rumah Wilkins di Florida. Petugas menyita MacBook, ponsel, perangkat elektronik lain, dan sejumlah dompet kripto digital miliknya. Saat diinterogasi, Wilkins menolak berbicara dan tidak menjawab satu pun pertanyaan penyidik.
Pengacara Wilkins hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Valve, perusahaan pengembang Steam, sebelumnya sudah menarik beberapa game dari platformnya setelah ditemukan mengandung malware. Salah satunya adalah PirateFi yang sudah dihapus tahun lalu. Semua game tersebut sengaja dirancang agar tampak meyakinkan—bisa diunduh, diinstal, dan dimainkan seperti game biasa—sehingga korban tidak curiga.
Pada Maret lalu, FBI secara terbuka mengumumkan penyelidikan terhadap kasus ini dan meminta para korban yang pernah mengunduh game-game tersebut untuk memberikan keterangan demi membantu proses hukum.