BANTEN — Lepore, yang baru saja memenangkan Pulitzer Prize untuk sejarah konstitusi AS, menegaskan bahwa kritiknya bukan ditujukan pada teknologi itu sendiri. "Saya tidak anti-teknologi," ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan podcast Equity milik TechCrunch. "Masalah saya adalah cara korporasi swasta semakin mengambil alih fungsi negara tanpa persetujuan publik."
Menurutnya, transformasi ini terjadi secara bertahap dan sering kali tidak disengaja, berawal dari niat baik untuk efisiensi, kecepatan, dan penghematan biaya. Namun dalam 20-25 tahun terakhir, keputusan tersebut menjadi "perebutan kekuasaan yang disengaja atas peran negara-bangsa."
Akar Ideologi "Negara Buatan"Dalam bukunya, Lepore menelusuri gagasan "negara buatan" (artificial state) hingga ke filosofi politik berabad-abad lalu. Ia juga mengkaji bagaimana fiksi ilmiah telah membentuk visi para pemimpin teknologi saat ini. Menariknya, ia menilai banyak dari mereka—termasuk Elon Musk—salah membaca karya fiksi ilmiah yang mereka kagumi.
"Yang lucu dari Musk adalah, hal-hal yang ia sukai justru sepenuhnya bertentangan dengan keyakinan politiknya," kata Lepore. Ia merujuk pada kecenderungan Musk yang kerap mengutip karya fiksi ilmiah pulp dan buku komik sebagai inspirasi, namun mengabaikan pesan politik yang terkandung di dalamnya.
Dari Iklan "1984" Apple hingga "Kota Digital" yang KeliruLepore juga mengkritik penggunaan metafora yang keliru dalam industri teknologi. Ia mencontohkan iklan legendaris Macintosh "1984" dari Apple yang terinspirasi novel George Orwell. Menurutnya, iklan tersebut justru menciptakan narasi bahwa teknologi adalah alat pembebas dari tirani—padahal kini teknologi itu sendiri yang berpotensi menjadi alat penindasan baru.
Ia juga menyebut penyebutan Twitter sebagai "balai kota digital" (digital town hall) sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal." Menurutnya, platform swasta tidak memiliki legitimasi demokratis untuk menggantikan ruang publik yang sesungguhnya.
Dampak Nyata bagi Pengguna dan RegulasiPeringatan Lepore hadir di tengah meningkatnya resistensi publik terhadap pembangunan pusat data raksasa dan dominasi platform digital. Bagi pengguna Indonesia, isu ini relevan dengan perdebatan tentang perlindungan data pribadi, netralitas internet, dan peran platform global dalam ruang demokrasi lokal.
Lepore mengingatkan bahwa ada banyak "jalan yang tidak diambil" dalam sejarah perkembangan internet. Salah satu titik baliknya adalah UU Telekomunikasi AS tahun 1996 yang menurutnya sangat dipengaruhi oleh politik Newt Gingrich, dan kini sulit untuk di