Gaji Pemain Championship Tembus Rekor Rp18,5 Triliun, Playoff Lebih Lebar Picu Judi Finansial Klub

Penulis: Luqman Arif  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:26:01 WIB
Deloitte mencatat belanja gaji klub Championship mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, dengan total utang bersih kolektif 24 klub sebesar 1,4 miliar pound pada akhir musim 2024-25.

BANTEN — Deloitte dalam Annual Review of Football Finance edisi terbaru mencatat belanja gaji di Championship mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Meski nominalnya masih jauh di bawah pengeluaran gaji Premier League yang menembus 4,4 miliar pound, proporsinya terhadap pendapatan justru jauh lebih timpang. Total utang bersih kolektif 24 kontestan Championship tercatat 1,4 miliar pound di akhir musim 2024-25, turun tipis dari 1,5 miliar pound pada musim sebelumnya.

Lima Belas Klub Terancam Bangkrut, Cardiff Paling Ekstrem

Data menunjukkan 13 dari 24 klub di divisi ini membelanjakan uang lebih banyak untuk gaji ketimbang pendapatan yang mereka hasilkan. Cardiff City menjadi contoh paling ekstrem dengan rasio gaji mencapai 150 persen dari pendapatan—mereka mengeluarkan 39 juta pound untuk gaji, padahal hanya menghasilkan 26 juta pound. Hasilnya, ambisi itu berujung pada juru kunci klasemen akhir musim.

Hanya empat klub yang berhasil menjaga rasio gaji di bawah 80 persen. Luton Town dan Sheffield United menjadi pengecualian dengan catatan sekitar 59 persen, terbantu dana parasut (parachute payment) usai terdegradasi dari Premier League musim sebelumnya.

West Ham dan Wolves Kuasai Pasar Gaji, Klub Lain Kian Tertinggal

Kesenjangan finansial di Championship kian melebar dengan hadirnya tim-tim degradasi. Capology memperkirakan West Ham memiliki daftar gaji tertinggi ke-15 di dunia di luar Premier League dan Liga Pro Saudi. Wolves berada dua tingkat di bawahnya, disusul Burnley yang enam peringkat lebih jauh.

Jarrod Bowen sendirian diperkirakan mengantongi 7,8 juta pound per tahun di West Ham—lebih besar dari total belanja gaji seluruh skuad Lincoln City (5,8 juta pound) atau Bolton Wanderers (6,3 juta pound). Sebagian besar klub papan atas di Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol pun kesulitan mengejar laju belanja klub-klub ini.

Hadiah Promosi Menggiurkan: 365 Juta Pound untuk yang Bertahan

Daya tarik berlomba borong pemain jelas terlihat dari estimasi kenaikan pendapatan klub yang baru promosi. Deloitte memperkirakan Coventry City dan Hull City bakal menikmati tambahan pendapatan minimal 210 juta pound dalam tiga musim ke depan. Jika mampu bertahan di Premier League hingga 2027-28, angkanya bisa melejit hingga 365 juta pound.

Ipswich Town mendapat angka lebih rendah—sekitar 170 juta hingga 325 juta pound—lantaran masih menerima dana parasut musim lalu. Burnley, yang kini menjadi favorit keempat bandar taruhan untuk promosi musim depan, telah bergantian naik-turun antara Championship dan Premier League selama lima musim beruntun.

Format Playoff Baru: Peluang Lebih Besar, Risiko Lebih Dalam

Perluasan playoff Championship musim ini membuka peluang bagi klub peringkat ketiga hingga kedelapan. Peringkat ketiga dan keempat langsung melaju ke semifinal dua leg, sementara peringkat kelima hingga kedelapan bertarung di perempat final satu leg. Sistem ini membuat banyak klub tetap percaya diri menambah belanja saat bursa transfer Januari.

Nasib Leicester City menjadi peringatan. Saat bursa musim dingin ditutup, mereka hanya berjarak enam poin dari peringkat kedelapan dan unggul sembilan poin dari zona degradasi. Klub dengan posisi serupa pada Januari mendatang bisa tergoda mengejar tiket playoff, tapi berakhir terdegradasi seperti Leicester.

Catatan sejarah juga tak berpihak pada tim peringkat bawah playoff. Sejak 2010, belum ada tim peringkat keenam yang sukses promosi lewat playoff. Aston Villa menjadi tim peringkat kelima terakhir yang melakukannya pada 2019. Sementara di National League yang memakai format enam tim sejak 2017-18, tim peringkat ketujuh belum pernah sekalipun menang playoff.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top