Kabupaten Lebak, Banten, mencatat surplus beras mencapai 191.477 ton pada periode Januari hingga Juli 2026. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, memastikan produksi pangan di daerahnya aman dan mampu memasok kebutuhan nasional. Angka ini setara dengan cadangan beras untuk 14,9 bulan konsumsi penduduk setempat.
LEBAK — Stok beras di Kabupaten Lebak dipastikan aman hingga tahun 2027. Dinas Pertanian mencatat produksi beras dari panen padi sawah dan gogo mencapai 281.458 ton, sementara kebutuhan konsumsi warga hanya 154.253 ton per tahun.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menyatakan surplus sebesar 191.477 ton ini menjadi bukti daerahnya berkontribusi nyata pada program swasembada pangan nasional.
"Kami memastikan produksi beras di daerah ini relatif aman dan bisa memasok kebutuhan nasional," kata Rahmat dalam keterangannya, Minggu lalu.
Angka surplus tersebut dihitung dari total produksi gabah kering pungut (GKP) yang mencapai 536.048 ton. Dari jumlah itu, serapan beras hingga Juli 2026 baru mencapai 89.981 ton.
Produksi gabah tersebut berasal dari panen padi sawah seluas 519.832 ton dan padi gogo 16.216 ton yang tersebar di 28 kecamatan.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Dinas Pertanian terus mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP) menjadi tiga kali musim tanam dalam setahun.
Rahmat menjelaskan, petani di sejumlah lokasi yang memiliki sumber air permukaan dipastikan tetap panen hingga September mendatang, meski musim kemarau melanda.
Gerakan tanam tetap berjalan dengan penggunaan pompa air yang menyedot air dari sungai untuk dialirkan ke areal persawahan. Sementara itu, untuk lahan darat, petani gogo menggunakan benih yang tahan terhadap kekeringan.
Pihaknya juga menjamin ketersediaan benih unggul, pupuk, pestisida, serta perbaikan irigasi dan jalan usaha tani. Bantuan peralatan pertanian seperti pompa, penggilingan padi, traktor, dan combine harvester turut disalurkan ke kelompok tani.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah, Ruhiana, menyebut setelah panen raya seluas 150 hektare, pihaknya kembali melakukan gerakan penanaman dengan sistem pompanisasi.
"Kita di sini bisa mencapai IP 3 kali dengan menggunakan pompa air dengan menyedot air permukaan Sungai Ciujung, sehingga bisa menghasilkan produksi pangan saat kemarau," jelasnya.
Dengan total penduduk 1,4 juta jiwa yang mengonsumsi rata-rata 12.854 ton beras per bulan, cadangan yang ada saat ini dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan warga Lebak hingga tahun depan.