LEBAK — Dinkes Kabupaten Lebak tidak main-main dalam menekan angka demam berdarah. Melalui pencanangan gerakan Jumantik, setiap rumah di lingkungan Komplek Pendidikan Rangkasbitung kini memiliki kader yang bertugas memeriksa dan memusnahkan jentik nyamuk Aedes Aegypti secara berkala.
"Kita komitmen dan kerja keras untuk memutuskan mata rantai penularan kasus DBD," kata Sekretaris Dinkes Kabupaten Lebak Endang Komarudin saat meninjau langsung kegiatan kader di lapangan, Jumat.
Mengapa Satu Rumah Harus Punya Satu Jumantik?
Populasi nyamuk Aedes Aegypti, menurut Dinkes, berkembang di tempat gelap dan lembab seperti pot bunga, kolam, barang bekas, ember, hingga saluran air. Dengan adanya kader di setiap keluarga, pemantauan bisa dilakukan secara ketat dan berkelanjutan, bukan hanya saat ada petugas puskesmas turun ke lapangan.
Endang menegaskan bahwa pendekatan ini lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan fogging atau sosialisasi massal. "Kami meyakini dengan kader Jumantik keluarga itu, dipastikan bisa memutus mata rantai penularan kasus DBD," ujarnya.
Edukasi Digencarkan Hingga ke Sekolah
Selain di lingkungan rumah tangga, Dinkes Lebak juga menyasar sekolah-sekolah sebagai titik rawan penyebaran penyakit. Seluruh petugas puskesmas diminta memberikan edukasi pencegahan DBD kepada guru dan siswa.
Materi yang disampaikan mencakup pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan praktik 3M Plus, yaitu menguras, menutup, mendaur ulang barang bekas, serta pemberian bubuk Abate pada tempat penampungan air. Langkah ini dinilai krusial karena lingkungan sekolah kerap menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk tanpa disadari.
418 Kasus DBD Terjadi dalam Lima Bulan
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Lebak, periode Januari hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 418 kasus DBD. Meski belum ditemukan korban jiwa, angka tersebut menunjukkan bahwa penularan masih cukup masif, terutama saat musim hujan yang melanda beberapa pekan terakhir.
"Kami hari ini melakukan pencanangan gerakan Jumantik dapat mencegah kasus DBD, apalagi cuaca beberapa pekan terakhir kerapkali dilanda hujan," kata Endang.
Dengan kebijakan satu rumah satu Jumantik, Dinkes berharap kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan meningkat. Gotong-royong menjadi kunci utama agar kasus DBD tidak kembali melonjak drastis seperti tahun-tahun sebelumnya.