BANTEN — Paraguay lolos ke Piala Dunia 2026 setelah terakhir tampil di Afrika Selatan 2010, ketika mereka mencapai perempat final dan takluk dari Spanyol era keemasan. Perjalanan panjang tanpa turnamen besar itu sempat membuat La Albirroja menjadi bahan olokan di kawasan Conmebol.
Semua berubah setelah Copa América 2024 yang buruk. Federasi sepak bola Paraguay menunjuk Gustavo Alfaro pada Agustus 2024—keputusan yang awalnya diragukan banyak pihak. Pelatih asal Argentina berusia 63 tahun itu kemudian membalikkan keadaan secara drastis.
Alfaro Sulap Paraguay Jadi Tim Tangguh
"Saya ingin orang-orang melihat Paraguay lagi sebagai tim yang tidak ingin dihadapi siapa pun," ujar Alfaro saat diperkenalkan. Ucapannya terbukti nyata. Di bawah asuhannya, Paraguay hanya kalah satu laga tandang di kualifikasi—kekalahan dari Brasil.
Hasil paling mengesankan terjadi saat mereka mengalahkan Brasil dan juara dunia Argentina. Kemenangan comeback atas Argentina di Asunción menjadi momentum kebangkitan. Paraguay finis sebagai salah satu tim terkuat kualifikasi bersama Ekuador dan Argentina.
Pertahanan Kokoh, Serangan Balik Mematikan
Paraguay mencatat rekor pertahanan terbaik di kualifikasi dengan hanya kebobolan 10 gol dalam 18 pertandingan. Duet bek tengah Omar Alderete dan kapten Gustavo Gómez menjadi fondasi utama. Sistem 4-2-3-1 yang fleksibel berubah menjadi 4-4-2 rapat saat bertahan.
Tim ini tidak menerapkan pressing tinggi. Sebaliknya, mereka menjebak lawan di lini tengah. Saat lawan kehilangan kreativitas, Paraguay melancarkan transisi cepat yang klinis. Gelandang bertahan Andrés Cubas setinggi 1,66 meter menjadi motor permainan dengan agresivitas dan kemampuan membaca pertandingan yang superior.
Enciso Jadi Tumpuan, Cedera Jadi Kekhawatiran
Julio Enciso disebut sebagai talenta terbesar Paraguay dalam 30 tahun terakhir. Pemain Strasbourg berusia 22 tahun itu memiliki dribel, kecepatan, dan tembakan jarak jauh yang mematikan. Namun, ia mengalami cedera paha dalam laga uji coba melawan Nikaragua sepekan sebelum laga pembuka melawan Amerika Serikat. Enciso tetap masuk skuad dan pemulihannya akan dipantau ketat.
Ketergantungan pada Enciso menjadi celah. Paraguay kekurangan volume serangan dan kreativitas dari pemain lain. Antonio Sanabria di lini depan punya kualitas teknis tinggi, tapi tiba di Piala Dunia dalam kondisi kurang bugar setelah minim menit bermain di Cremonese.
Ancaman Nyata untuk Australia, AS, dan Turki
Grup D berisi Australia, Amerika Serikat, dan Turki. Paraguay datang sebagai tim disiplin, fisik, dan menyesakkan. Mereka unggul dalam duel udara dan set-piece. Gaya main yang mengandalkan efektivitas ketimbang penguasaan bola bisa menjadi jebakan mematikan bagi Turki yang diperkirakan mendominasi penguasaan bola.
Alfaro membangun tim yang tidak ingin dihadapi siapa pun di turnamen besar. Sekarang giliran tiga lawan di Grup D yang harus membuktikan bisa bertahan dari kebangkitan La Albirroja.