BANTEN — PalmCo, hasil konsolidasi 13 perusahaan negara, mengelola 586.000 hektar lahan, 68 pabrik, dan 70.000 karyawan. Pendapatannya Rp46,82 triliun dengan laba bersih Rp7,08 triliun pada 2025. Namun, Agus melihat ada kelemahan struktural: ketergantungan pada suntikan kas negara atau entitas seperti Danantara.
Di sisi lain, CUKK lahir pada 1993 dari modal Rp291.000 dan 12 anggota. Kini, asetnya Rp2,3–2,54 triliun, anggota lebih dari 230.000, dan 80 cabang. Rasio kredit macet (NPL) hanya 3,29 persen. Audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) diraih 13 tahun berturut-turut. Semua dicapai tanpa utang perbankan.
Dua Mesin Pertumbuhan: Negara vs Kepercayaan
Menurut Agus, perbedaan paling fundamental ada pada mesin penggerak. PalmCo digerakkan logika ekonomi klasik: modal negara dan skala besar. CUKK digerakkan rasa percaya (trust), modal budaya, dan solidaritas relasional.
"Jika PalmCo berkenan menoleh ke pedalaman, ia akan menemukan 'buku petunjuk' tentang bagaimana mengubah energi material menjadi energi sosial, sebuah lompatan kuantum yang selama ini tak terjangkau oleh birokrasi," tegas Agus dalam keterangannya di Jakarta, pekan ini.
Diversifikasi hingga SMK dan Pabrik Sawit
CUKK tak berhenti di simpan pinjam. Koperasi ini memiliki SMK dan Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK). Tahun ini, mereka menargetkan pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mandiri. Artinya, dari hulu ke hilir, semua dikelola sendiri.
Agus menilai, penggabungan kapasitas hilirisasi global ala PalmCo dan efisiensi berbasis kepercayaan ala CUKK bisa jadi fondasi bioekonomi Indonesia. "Keberhasilan bisnis tidak selalu butuh suntikan APBN, melainkan kepadatan relasi sosial dan akuntabilitas tinggi," katanya.
Pelajaran untuk Korporasi Besar
Meski skala bisnis bertolak belakang, Agus yakin PalmCo bisa mengonversi modal material menjadi energi sosial. Caranya? Meniru model pertumbuhan CUKK yang berbasis komunitas, bukan sekadar ekspansi aset.
Bagi pembaca umum, cerita CUKK membuktikan: modal besar bukan jaminan. Kepercayaan dan akuntabilitas justru jadi perekat yang membuat bisnis bertahan lama—tanpa bergantung pada utang atau subsidi negara.