BANTEN — Tekanan terhadap rupiah terlihat sejak pembukaan pasar, seiring mayoritas mata uang Asia lainnya juga kompak tertekan. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen dan baht Thailand yang turun 0,17 persen. Mata uang utama negara maju seperti euro dan pound sterling juga tak luput dari tekanan, memperkuat dominasi dolar AS di pasar global.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan fase konsolidasi di tengah ketidakpastian. Faktor utamanya adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih limbung, membuat investor memilih sikap wait and see.
“Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kebutuhan ini berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan, bertepatan dengan terbatasnya arus masuk valas ke dalam negeri. Situasi ini diperparah oleh libur panjang Iduladha yang mengurangi volume transaksi.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa bank sentral terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas. “Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” kata Ramdan pada Jumat (29/5) lalu.
Intervensi ini dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk operasi moneter dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Meski tekanan masih kuat, ada secercah harapan dari harga minyak mentah dunia yang mulai menurun. Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi beban impor energi Indonesia dan memperbaiki neraca perdagangan.
Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pasar diperkirakan akan fokus pada rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan diumumkan besok, Selasa (2/6).
Data-data tersebut akan menjadi indikator utama bagi investor untuk mengukur kekuatan fundamental ekonomi domestik di tengah gejolak global. Jika inflasi terkendali dan surplus perdagangan terjaga, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda dalam jangka pendek.
Investasi mengandung risiko.