LEBAK — Pemerintah Kabupaten Lebak terus mendorong pengembangan pasar tradisional sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat, khususnya petani. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Yani, menyatakan bahwa hingga saat ini terdapat 14 lokasi pasar tradisional yang dikembangkan secara bertahap melalui bantuan Kementerian Perdagangan dan Pemerintah Provinsi Banten.
"Setiap tahun kami mendirikan pasar tradisional. Tahun 2025 ini, kami akan membangun Pasar Narimbang di Rangkasbitung," kata Yani kepada ANTARA di Lebak, Selasa.
Salah satu tujuan utama pengembangan pasar tradisional adalah memberikan akses langsung bagi petani untuk menjual hasil panennya tanpa melalui perantara. Yani menjelaskan, petani di Lebak banyak yang menggantungkan hidup dari hasil bumi seperti buah-buahan, umbi-umbian, pisang, dan aneka sayuran dataran rendah.
"Kehadiran pasar tradisional ini menguntungkan pendapatan ekonomi petani karena bisa memutus mata rantai tengkulak maupun pengepul," ujarnya.
Dari belasan pasar yang dikelola, Pasar Tradisional Rangkasbitung tercatat sebagai yang terbesar. Selain itu, pasar utama lainnya meliputi Pasar Maja, Muncang, Sampay, dan Bayah. Perputaran uang di Pasar Rangkasbitung mencapai Rp1 miliar per hari, dengan omzet rata-rata Rp1 juta per pedagang dari total sekitar 1.000 pedagang yang beraktivitas di sana.
Menariknya, Kabupaten Lebak hingga saat ini belum memiliki pasar modern. Hal ini justru membuat pasar tradisional menjadi andalan utama bagi perekonomian warga, termasuk petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
Rudi, seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung, mengaku telah berjualan hasil alam selama 10 tahun terakhir. Ia mengklaim usahanya masih bertahan dan tidak terpengaruh oleh maraknya penjualan secara daring.
"Kami menampung produk pertanian dan menjualnya secara eceran. Keuntungan bersih yang bisa kami dapatkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari," kata Rudi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tradisional di Lebak masih memiliki daya saing dan menjadi simpul ekonomi yang vital bagi masyarakat pedesaan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menambah jumlah pasar tradisional guna memperkuat ketahanan ekonomi petani lokal.