BANTEN — Sudah tiga tahun lebih sejak Wireless Power Consortium (WPC) meresmikan standar Qi2 pada awal 2023. Konsepnya jelas: membawa kenyamanan sistem magnet ala MagSafe milik Apple ke seluruh industri ponsel. Namun, hingga pertengahan 2026, realitas di lapangan masih timpang. Dari sekian banyak ponsel Android yang beredar, hanya Google Pixel 10 yang benar-benar mengadopsi Qi2 secara penuh dengan magnet terintegrasi di bodi perangkat.
Google menjadi pelopor pertama di kubu Android dengan menyematkan magnet Qi2 langsung di rangka Pixel 10. Hasilnya, pengguna bisa menempelkan berbagai aksesori—dari charger nirkabel, power bank, hingga dudukan mobil—tanpa perlu casing khusus. Google bahkan meluncurkan lini aksesori "Pixelsnap" yang kompatibel, tapi yang lebih penting, ekosistem aksesori pihak ketiga yang sudah memproduksi ribuan produk MagSafe dan Qi2 langsung bisa dipakai tanpa adaptor tempelan.
"Being able to use the Pixel 10 not only with Google's 'Pixelsnap' accessories, but a whole host of other Qi2 and MagSafe accessories really builds out an experience that you don't get elsewhere on Android," tulis editor 9to5Google dalam artikelnya, Kamis (12/6).
Samsung menjadi contoh paling mencolok dari keengganan ini. Seri Galaxy S26 yang baru dirilis tahun ini kembali melewatkan Qi2. Alasannya? Bukan lagi "pelanggan tidak memintanya" seperti tahun lalu, melainkan demi mengejar desain bodi yang lebih tipis. Keputusan ini dinilai mengabaikan gambaran besar: bahwa aksesori magnetik sudah menjadi kebutuhan fungsional, bukan sekadar gimmick.
Padahal, produsen aksesori sudah bergerak lebih dulu. Mayoritas pengisi daya nirkabel anyar kini mengadopsi Qi2. Power bank, dudukan mobil, hingga dompet magnetik semua beralih ke standar ini. Ironisnya, dari seluruh ponsel Android yang beredar, hanya empat model yang mendukung Qi2 secara native. HMD Skyline, yang seharusnya menjadi salah satunya, sudah kehabisan dukungan perangkat lunak sejak akhir tahun lalu. Sementara Clicks Communicator baru akan hadir di kemudian hari.
Argumen klasik yang sering muncul adalah: "Pakai casing saja, kan, sudah ada ring magnet?" Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Ponsel yang masih menggunakan standar Qi 1.3.3—yang masih dipakai banyak perangkat Android—kehilangan dua hal penting: kecepatan pengisian yang lebih tinggi dan presisi alignment.
Qi2 tidak hanya menambahkan magnet, tapi juga meningkatkan efisiensi pengisian daya. Tanpa magnet terintegrasi di ponsel, produsen casing harus menebak-nebak posisi koil yang pas. Akibatnya, sering kali pengisian daya tidak optimal atau bahkan tidak terdeteksi. Sertifikasi "Qi2 Ready" setidaknya membantu produsen casing mendapatkan panduan alignment yang benar, tapi tetap saja bukan solusi sempurna.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah sinyal yang dikirim para produsen ponsel. "It also just signals that brands aren't taking this industry shift seriously," tulis 9to5Google. "For crying out loud, Samsung's phones still can't properly use more Qi2 accessories because Samsung refuses to change its design."
Bagi pengguna di Indonesia, situasi ini terasa lebih menjengkelkan. Aksesori MagSafe dan Qi2 sudah mudah ditemukan di marketplace lokal dengan harga yang semakin terjangkau. Namun, tanpa ponsel yang mendukung secara native, pengalaman pengguna tetap setengah-setengah. Pengguna harus membeli casing khusus, yang belum tentu presisi alignment-nya, atau menempelkan ring magnet yang bisa mengganggu estetika dan fungsi pengisian nirkabel.
Di sisi lain, ekosistem Apple sudah lama menikmati kemudahan ini. Dengan sikap industri Android yang setengah hati, celah pengalaman pengguna antara kedua kubu semakin lebar. "Apple already treats Android phones like they're ancient, and this stubborn ignorance of Qi2 isn't helping," tulis 9to5Google menutup analisisnya.
Belum ada kabar kapan merek-merek besar seperti Samsung, Xiaomi, atau Oppo akan benar-benar mengadopsi Qi2. Sampai saat itu tiba, Pixel 10 tetap menjadi satu-satunya pilihan bagi pengguna Android yang menginginkan kemudahan aksesori magnetik tanpa kompromi.