BANTEN — Kenaikan ini melanjutkan tren bullish yang sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu. Dalam sepekan terakhir, harga emas Antam sudah menguat lebih dari 1,5%, mendekati level psikologis Rp2.750.000 per gram yang sempat diincar para pelaku pasar.
Harga pembelian kembali (buyback) yang dipatok Antam juga ikut naik ke level Rp2.477.000 per gram. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali saat ini berada di kisaran 8,6%, yang merupakan standar marjin untuk emas batangan ritel di Indonesia.
Investor yang membeli emas pada awal tahun lalu ketika harga masih di bawah Rp2 juta per gram sudah menikmati keuntungan kertas lebih dari 35% dalam 18 bulan terakhir.
Penguatan harga emas di pasar domestik tak lepas dari rally emas dunia yang masih berlangsung. Harga emas di pasar spot global bertengger di level US$2.850 per troy ounce pada perdagangan Jumat pagi, mendekati rekor tertinggi yang dicapai pada awal pekan ini.
Ketidakpastian geopolitik global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih menjadi katalis utama. Data inflasi AS yang dirilis Rabu (11/6) lalu menunjukkan perlambatan, memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September mendatang.
"Pasar sedang memposisikan diri untuk siklus pelonggaran moneter. Dalam lingkungan seperti ini, emas selalu menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan," ujar analis komoditas dari Refinitiv, James Steel, dalam catatan risetnya.
Manajemen Antam memastikan pasokan logam mulia tetap terjaga meskipun permintaan melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir. Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam di Jakarta dan Surabaya beroperasi normal untuk memenuhi pesanan.
Bagi investor ritel, kenaikan harga saat ini membuat entry point terasa berat. Namun, para analis menyarankan strategi pembelian bertahap (dollar cost averaging) untuk mengurangi risiko membeli di puncak.
Investasi mengandung risiko. Harga emas bisa turun sewaktu-waktu seiring perubahan sentimen pasar global.