BANTEN — Kompetisi yang mempertemukan para pemain terbaik hasil seleksi sepanjang musim 2025-2026 ini menjadi panggung pembuktian bagi calon srikandi masa depan. Tidak hanya soal kemenangan, turnamen ini dirancang sebagai batu loncatan menuju level profesional dan Tim Nasional Putri Indonesia.
Perubahan paling signifikan terletak pada jumlah pemain di lapangan. Jika tahun lalu menggunakan format 7 vs 7, kini setiap tim bertarung dengan 9 pemain. Durasi pertandingan juga diperpanjang menjadi 2x20 menit dengan jeda istirahat 10 menit.
Masing-masing tim kini diperkuat 16 pemain (termasuk cadangan), naik dari sebelumnya 14 pemain. Mereka didampingi empat official yang terdiri dari tiga pelatih dan satu safe guardian. Adapun aturan guest star masih sama: maksimal dua pemain non-MLSC dengan syarat kelahiran 2012 dan masih duduk di kelas 6 SD.
"Setelah menyaring ribuan talenta berbakat dari berbagai kota, kami membawa para calon srikandi terbaik ini ke panggung All-Star di Kudus dengan satu tujuan besar, yaitu mematangkan mental juara dan mempersiapkan mereka menjadi fondasi masa depan Tim Nasional Putri Indonesia," ujar Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono.
Head Coach MLSC, Jacksen F Tiago, menilai level kompetisi tahun ini jauh lebih ketat. "Tim pemandu bakat kami melihat persaingan yang jauh lebih merata dan kompetitif dibanding tahun sebelumnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa All-Star 2026 merupakan bagian penting dari trilogi sepak bola putri nasional. "Yang akan membuka jalan bagi para pemain terbaik untuk melangkah ke turnamen besar berskala internasional," tegas Jacksen.
Babak penyisihan akan diawali fase grup. Drawing yang digelar Minggu (21/6) menghasilkan tiga grup:
Persaingan di fase grup diprediksi sengit mengingat setiap daerah memiliki karakter permainan yang berbeda. Supersoccer Arena, Kudus, akan menjadi saksi pertarungan para pemain muda berbakat yang siap menunjukkan kemampuan terbaik mereka.