BANTEN — Kekalahan dari Brasil memang sudah diperkirakan, tapi cara Skotlandia tampil di laga pamungkas Grup C menuai kritik tajam. Sepanjang turnamen, kontribusi Skotlandia di lapangan dinilai sangat buruk. Mereka bahkan kalah jumlah gol dari Haiti di grup yang sama, plus New Zealand, Iran, dan Cape Verde di grup lain.
Skotlandia baru mencatatkan tembakan tepat sasaran kedua mereka di turnamen ini pada menit ke-50 saat Scott McTominay menyundul bola ke tangan Alisson. Sebelumnya, satu-satunya tembakan mengarah ke gawang adalah gol kemenangan John McGinn melawan Haiti. "Fundamentally and undeniably grim," tulis analis menggambarkan performa Skotlandia.
Rencana Skotlandia hancur di menit ketujuh. Bek Scott McKenna gagal mengantisipasi bola, yang kemudian direbut Rayan dan jatuh ke kaki Vinícius Júnior. Penyerang Brasil itu dengan mudah melewati Angus Gunn dan mencetak gol. Vinícius sempat mencetak gol kedua, tapi dianulir VAR karena dianggap melanggar Jack Hendry—keputusan yang membuat pelatih Carlo Ancelotti marah.
Di masa injury time babak pertama, Nathan Patterson dan Gunn kembali melakukan kesalahan saat menghadapi umpan Bruno Guimarães. Vinícius memanfaatkan kelengahan pertahanan Skotlandia untuk mencetak gol keduanya lewat sundulan. Skotlandia mulai khawatir dengan selisih gol mereka.
Gol ketiga Brasil lahir dari aksi brilian Bruno Guimarães. Gelandang Newcastle itu memperdaya pertahanan dan kiper Skotlandia dengan gerakan kaki sebelum memberikan umpan kepada Matheus Cunha yang mencetak gol. Guimarães tampil sempurna sepanjang laga. Sementara itu, Neymar masuk pada 14 menit terakhir, menandai kembalinya ia ke tim nasional sejak akhir 2023, meski tanpa gol.
Steve Clarke tidak sepenuhnya disalahkan atas kegagalan ini, tapi performa tim di tiga laga memunculkan pertanyaan tentang apa yang dipelajari dari dua turnamen sebelumnya. Lebih parah lagi, Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (FA) memberikan perpanjangan kontrak empat tahun kepada Clarke sebelum turnamen dimulai. Kritik tajam dialamatkan pada federasi yang dinilai gagal mengelola penurunan kualitas pemain Skotlandia. Hasil akhirnya, Skotlandia tampil di Piala Dunia tanpa menunjukkan bahwa mereka pantas berada di sana.