BANTEN — FIFA menghadapi ironi besar di Piala Dunia 2026. Perluasan turnamen dari 32 menjadi 48 tim yang dirancang untuk memberi lebih banyak negara pengalaman justru menciptakan celah taktis yang bisa merusak esensi kompetisi. Dua laga di Grup D dan Grup J pekan ini menjadi contoh nyata.
Australia dan Paraguay sama-sama mengoleksi tiga poin di Grup D. Jika mereka bermain imbang Kamis nanti, masing-masing mengantongi empat poin. Dengan sistem yang meloloskan delapan peringkat ketiga terbaik, angka itu hampir dijamin aman ke babak 32 besar.
Skenario serupa menanti Austria vs Aljazair di Grup J. Bedanya, laga ini menjadi penutup fase grup paling akhir. Kedua tim akan tahu persis berapa poin yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik. Peluang bermain aman sangat terbuka lebar.
FIFA sebenarnya sudah pernah mengalami skandal serupa. Piala Dunia 1982 di Spanyol menyisakan luka saat Jerman Barat dan Austria bermain 1-0, hasil yang menguntungkan kedua tim dan menyingkirkan Aljazair. Ironisnya, empat dekade kemudian, Aljazair justru bisa menjadi pihak yang diuntungkan oleh celah yang sama.
“Dengan dua grup yang sudah selesai sebelum Australia bertanding, mereka akan tahu persis apakah empat poin cukup,” tulis analis turnamen. Situasi ini membuat tim yang bermain lebih awal tidak punya insentif untuk menyerang, sementara tim yang bermain belakang bisa memilih lawan di babak gugur.
Bandar judi sudah membaca skenario ini. Odds untuk hasil imbang di laga Australia vs Paraguay dan Austria vs Aljazair nyaris genap, sekitar 2-1. Bandingkan dengan laga lain seperti Jepang vs Swedia atau Norwegia vs Prancis yang odds draw-nya berkisar 3-1 hingga 4-1.
Data itu menunjukkan pasar yakin kedua laga berpotensi berakhir tanpa pemenang. Padahal, Euro 2020 membuktikan bahwa situasi serupa belum tentu berujung kolusi. Saat itu Ukraina dan Austria sama-sama butuh hasil imbang, tapi Austria memilih menang 1-0 untuk mengamankan posisi kedua.
FIFA awalnya merencanakan 16 grup berisi tiga tim, tapi format itu ditinggalkan karena rawan kolusi absolut. Kini dengan 12 grup berisi empat tim dan delapan peringkat ketiga lolos, risiko memang lebih kecil tapi tetap nyata.
“Lebih sulit tersingkir daripada lolos,” tulis laporan tersebut. Tim dengan rekor tiga poin dan selisih gol -1 masih punya peluang besar melaju. Situasi ini kontras dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana setiap pertandingan fase grup terasa hidup karena hanya dua tim teratas yang lolos.
Pertandingan Australia vs Paraguay dan Austria vs Aljazair bukan sekadar laga biasa. Mereka menjadi ujian apakah FIFA perlu mengevaluasi ulang sistem kelolosan atau membiarkan celah ini terus ada. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang terbiasa dengan drama kualifikasi, skenario ini terasa hambar.
Yang pasti, jika kedua laga berakhir 0-0 tanpa tembakan ke gawang, kritik terhadap format 48 tim akan kembali menggema. FIFA harus memilih: menjaga jumlah peserta atau menjaga kredibilitas kompetisi.