BANTEN — Pergerakan rupiah terjadi di tengah mixed sentiment di kawasan. Ringgit Malaysia dan peso Filipina justru menguat, sementara won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan depresiasi 0,38 persen. Dolar Singapura, yen Jepang, dan yuan China juga ikut melemah terhadap dolar AS pada sesi awal perdagangan.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penyebab utama pelemahan rupiah adalah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Inflasi inti Negeri Paman Sam tercatat naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com. Angka ini memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Tekanan terhadap rupiah bertambah setelah sejumlah pejabat Federal Reserve mengeluarkan pernyataan bernada hawkish. Sikap ini meningkatkan ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS bisa menaikkan suku bunga lagi, bukan menurunkannya seperti yang diharapkan banyak pihak.
Akibatnya, dolar AS kembali perkasa di hadapan hampir seluruh mata uang global. Di kelompok mata uang utama negara maju, hanya dolar Kanada yang berhasil menguat tipis 0,03 persen. Sementara euro, poundsterling, dan dolar Australia semuanya terdepresiasi.
Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan diperkirakan berada di Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 menjadi batas yang krusial untuk dipertahankan.
Bagi pelaku bisnis dan investor, pelemahan ini berarti biaya impor bahan baku dan pembayaran utang valas akan semakin mahal. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi dalam rupiah.
Pelemahan rupiah membuat harga barang impor seperti elektronik, kosmetik, dan bahan baku industri naik. Harga tiket pesawat dan paket wisata ke luar negeri juga ikut terpengaruh karena biaya sewa pesawat dan hotel dibayar dalam dolar.
Bank Indonesia biasanya akan melakukan intervensi di pasar valas melalui mekanisme spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas. Namun, sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari BI terkait pergerakan pagi ini.
Potensi penguatan rupiah baru akan muncul jika data tenaga kerja AS minggu depan menunjukkan pelemahan atau jika The Fed memberikan sinyal dovish. Sampai saat ini, sentimen pasar masih didominasi oleh ekspektasi hawkish yang membuat dolar AS tetap kokoh.