BANTEN — Berdasarkan data terbaru dari lembaga riset energi Ember, China mengirimkan sekitar 448.000 kendaraan listrik penumpang ke luar negeri pada Mei 2025. Angka ini naik 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melampaui rekor April 2025 yang sebesar 9,1 miliar dolar AS. Dari total tersebut, 279.000 unit merupakan Battery Electric Vehicle (BEV) dan 169.000 unit Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Pencapaian ini menunjukkan skala produksi China yang sulit ditandingi. Pada 2020, ekspor kendaraan listrik China masih di bawah 1 miliar dolar AS per bulan. Kini dalam waktu lima tahun, nilainya melonjak lebih dari sembilan kali lipat.
Kebijakan Nol Bea Masuk di Kamboja dan Larangan Impor Mobil Bensin di Laos
Kamboja memotong bea masuk BEV menjadi nol persen pada akhir Maret 2025 dan menurunkan tarif PHEV dari 35 persen menjadi 7 persen. Kebijakan ini langsung berdampak: volume impor kendaraan listrik China ke Kamboja mencapai rekor bulanan pada Mei. Meski BEV masih mendominasi, PHEV mulai menunjukkan pertumbuhan.
Laos mengambil langkah lebih radikal. Negara itu menurunkan biaya registrasi dan servis kendaraan listrik, serta mewajibkan perusahaan transportasi memiliki minimal 10 persen armada kendaraan listrik pada akhir 2026. Pada Mei 2025, Laos bahkan melarang sementara impor mobil bermesin bensin hingga akhir tahun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dampak kebijakan ini baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.
Krisis Energi Timur Tengah Mempercepat Adopsi EV di ASEAN
Ember menyebut harga bahan bakar yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah menjadi katalis percepatan elektrifikasi di Asia Tenggara. Lam Pham, analis energi Ember untuk Asia, mengatakan krisis energi saat ini memperkuat nilai elektrifikasi sebagai jalur menuju ketahanan energi yang lebih besar dan penghematan biaya transportasi jangka panjang.
"Negara-negara ASEAN kini mengurangi paparan terhadap fluktuasi harga minyak dunia dengan beralih ke kendaraan listrik," ujar Pham dalam pernyataan resmi.
Produsen China Gencar Bangun Pabrik Lokal di Thailand dan Indonesia
Euan Graham, analis senior listrik dan data Ember, menilai Asia Tenggara dengan cepat menjadi salah satu tujuan paling dinamis bagi kendaraan listrik. China memasok permintaan itu dalam skala besar dan kecepatan tinggi melalui investasi pabrik lokal dan kemitraan dengan distributor setempat.
Thailand menjadi pangsa pasar terbesar dengan impor 36.000 unit kendaraan listrik China pada Mei. Pemerintah Thailand memberikan insentif pajak dan target produksi kendaraan listrik 30 persen dari total produksi nasional pada 2030. Filipina menyusul dengan 33.000 unit, didorong oleh kebijakan pengurangan pajak impor kendaraan listrik hingga 2028.
Laporan Ember menegaskan bahwa momentum adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara tidak lagi sekadar tren, melainkan transformasi struktural yang didukung kebijakan fiskal dan regulasi impor. China, dengan kapasitas produksi massal dan harga yang kompetitif, menjadi pemasok utama dalam transisi ini.