BANTEN — Duta Besar Vietnam untuk Rusia, Dang Minh Khoi, menyatakan kedua pihak berharap proses konstruksi bisa segera dimulai setelah seluruh pembahasan teknis rampung. "Kedua belah pihak berharap dapat memulai pembangunan. Kedua belah pihak sepakat proses ini perlu dipercepat," ujarnya kepada RIA Novosti, Rabu (1/7). Proyek ini diberi nama PLTN Ninh Thuan-1, yang akan menjadi tonggak sejarah bagi Vietnam sebagai negara pengguna energi nuklir pertama di kawasan.
Dalam proyek ini, Rosatom akan memasok dua unit reaktor VVER-1200 generasi 3+, masing-masing berkapasitas 1.200 megawatt. Teknologi ini merupakan andalan Rusia untuk pasar ekspor dan telah beroperasi di sejumlah negara, termasuk Belarus dan Turki. Dengan total kapasitas 2.400 MW, PLTN Ninh Thuan-1 diperkirakan mampu memasok listrik bagi jutaan rumah tangga dan kawasan industri di Vietnam selatan.
Perjanjian antarpemerintah antara Vietnam dan Rusia ditandatangani pada Maret 2026, menjadi kerangka hukum utama bagi pelaksanaan proyek ini. Saat ini, kedua negara masih membahas detail teknis, termasuk jadwal konstruksi, pendanaan, dan transfer teknologi.
Selain proyek nuklir, Vietnam juga menyiapkan agenda diplomatik besar. Pemerintah Hanoi berharap Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang akan digelar di Vietnam pada 2027. "Kami telah mulai melakukan persiapan untuk KTT APEC. Kami berharap Presiden Putin akan berkunjung dan berpartisipasi," kata Dang Minh Khoi.
Sebelumnya, Pejabat Vietnam Le Minh Hung bertemu langsung dengan Putin di sela KTT Rusia-ASEAN di Kazan pada 18 Juni lalu. Dalam pertemuan itu, Hung menyampaikan undangan resmi dari Presiden To Lam untuk kunjungan kenegaraan Putin ke Vietnam, sekaligus mengajaknya hadir dalam KTT APEC 2027. Langkah ini menunjukkan hubungan bilateral yang erat antara Hanoi dan Moskow, terutama di sektor energi dan infrastruktur strategis.
Proyek PLTN Ninh Thuan-1 menjadi salah satu proyek infrastruktur energi paling ambisius di Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir. Jika berjalan sesuai rencana, Vietnam akan menjadi negara kedua di kawasan setelah Indonesia yang memiliki fasilitas pembangkit nuklir komersial.