BANTEN — PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku agen pemegang merek Mazda buka suara soal nasib MX-30 di pasar domestik. Chief Operating Officer sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia, Ricky Thio, mengakui model Battery Electric Vehicle (BEV) pertama mereka itu tidak laku keras.
"MX-30 ya, kita memang ngejual enggak banyak jujur ngomong. Waktu itu kita masukkan mungkin 20 unit. Memang ya, hanya itu aja," kata Ricky di Bogor, Rabu (1/7/2026).
Ricky menjelaskan, sejak awal MX-30 memang didatangkan dalam jumlah sangat terbatas. Spesifikasinya dinilai belum cocok dengan kebutuhan mayoritas konsumen Indonesia.
"Karena pada waktu kita masukkan mobil BEV pertama, mungkin waktu itu belum terlalu cocok untuk Indonesia karena harganya mahal, baterai yang juga masih yang range yang terbatas, sekitar 200 kilo (km)," ujarnya.
Sebagai gambaran, MX-30 menggendong baterai 35,5 kWh dengan jarak tempuh sekitar 200 kilometer sekali cas. Bandrolnya mencapai Rp 860 jutaan. Angka itu jauh di bawah rata-rata mobil listrik yang beredar saat ini dari segi jarak tempuh.
Sejalan dengan keputusan Mazda global yang menghentikan produksi MX-30, PT EMI juga sudah tidak memesan unit baru lagi. Perusahaan kini memusatkan perhatian pada layanan purnajual untuk pemilik yang sudah ada.
Meski begitu, Mazda tidak mundur dari strategi elektrifikasi di Indonesia. Ricky menyebut pengembangan model sepenuhnya di tangan Mazda Corporation, bukan distributor lokal. "Mazda kan bikin mobil nggak hanya untuk Indonesia, apalagi kalau lihat berapa market di Indonesia, berapa market di U.S.," katanya.
Ke depan, Mazda bakal menghadirkan model listrik yang lebih kompetitif. Salah satu kandidat kuat adalah Mazda EZ-6 atau Mazda 6e, hasil kolaborasi dengan Changan. Model ini sudah dikonfirmasi akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat.
Ricky menambahkan, kebutuhan kendaraan listrik tiap negara tidak bisa disamaratakan. "Contoh Amerika Serikat. I think AS completely different environment dengan Indonesia," pungkasnya.