Banten bukan sekadar pintu gerbang Sumatra atau kawasan industri. Di balik hiruk-pikuk pelabuhan dan pabrik, provinsi ini menyisakan fragmen sejarah yang membentang dari era kerajaan Hindu-Buddha hingga kolonialisme. Saya masih ingat pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Masjid Agung Banten Lama. Aroma dupa bercampur debu sejarah langsung menusuk hidung. Di situlah saya sadar, Banten punya cerita yang jauh lebih dalam dari yang ditulis di buku pelajaran sekolah.
Artikel ini tidak akan mengulang narasi dangkal. Saya akan mengajak Anda menyusuri tujuh warisan konkret—mulai dari bangunan, tradisi, hingga artefak sosial—yang menjadi bukti betapa kayanya peradaban Banten. Semua informasi ini saya kumpulkan dari observasi langsung dan wawancara dengan budayawan setempat selama beberapa tahun terakhir.
Masjid ini dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten. Arsitekturnya unik: menara setinggi 24 meter yang mirip mercusuar buatan Belanda, justru dipadukan dengan atap tumpang bergaya Jawa dan pengaruh Tiongkok pada bagian tiang penyangga.
Yang menarik, menara tersebut dirancang oleh arsitek Belanda bernama Hendrick Lucasz Cardeel yang masuk Islam. Percampuran budaya di satu bangunan ini jarang ditemukan di provinsi lain. Bila berkunjung, luangkan waktu duduk di serambi samping—di sanalah Anda bisa mendengar kumandang azan yang bergema di antara makam para sultan.
Kompleks keraton ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Serangan Belanda pada 1808 dan 1832 membuat sebagian besar bangunan hancur. Kini yang tersisa hanyalah fondasi, kolam pemandian, dan benteng pertahanan dari batu karang.
Pengunjung bisa melihat langsung sistem irigasi kuno yang mengalirkan air dari Danau Tasikardi ke dalam istana. Teknik tata air ini menunjukkan tingkat peradaban yang maju pada masanya. Sayang, banyak papan informasi yang sudah pudar—lebih baik bawa pemandu lokal atau baca literatur sejarah sebelum datang.
Tasikardi bukan danau alami. Ini adalah waduk buatan yang digali pada 1600-an untuk memenuhi kebutuhan air Keraton Surosowan. Luasnya sekitar 5 hektar, dikelilingi pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga ke permukaan air.
Di tepi danau, Anda bisa menemukan sisa-sisa bangunan pemandian keluarga kerajaan. Masyarakat setempat percaya air danau ini memiliki khasiat tertentu. Namun, kebersihan airnya perlu diwaspadai karena sudah tercampur limbah rumah tangga dari permukiman sekitar.
Debus sering disalahartikan sebagai atraksi kekebalan tubuh semata. Padahal, tradisi ini merupakan warisan latihan spiritual prajurit Kesultanan Banten. Mereka mengasah kekuatan batin dan fisik melalui zikir dan gerakan tertentu.
Pertunjukan debus asli tidak hanya menusuk tubuh dengan golok atau memakan api. Ada syair-syair pujian kepada Tuhan yang dilantunkan sebelum aksi dimulai. Di Serang dan Pandeglang, Anda masih bisa menyaksikan pagelaran debus setiap hari besar Islam atau acara pernikahan. Jangan datang terlambat—acara biasanya dimulai setelah salat Isya.
Rampak Bedug adalah pertunjukan tabuhan bedug massal yang biasanya digelar saat bulan Ramadan. Puluhan bedug dipukul secara serempak dengan irama yang telah diatur. Suaranya bergemuruh, menciptakan atmosfer khidmat sekaligus meriah.
Tradisi ini lahir dari kebiasaan masyarakat Banten kuno yang menggunakan bedug sebagai alat komunikasi dan penanda waktu salat. Kini, Rampak Bedug telah menjadi festival tahunan yang menarik wisatawan. Lokasi paling populer untuk menyaksikannya ada di Alun-Alun Kota Serang dan kawasan Banten Lama.
Benteng ini dibangun Belanda pada 1682 di tepi laut Banten. Nama Speelwijk diambil dari Gubernur Jenderal VOC saat itu, Cornelis Speelman. Uniknya, benteng ini justru menjadi saksi bagaimana Sultan Ageng Tirtayasa melancarkan perlawanan gerilya terhadap VOC.
Dari atas benteng, Anda bisa melihat hamparan Selat Sunda dan sisa-sisa pelabuhan kuno Banten. Tempat ini sangat fotogenik saat sore hari, tetapi tidak ada peneduh sama sekali. Bawa topi dan air minum yang cukup.
Masyarakat Banten kuno menggunakan aksara Sunda Kuno untuk menulis naskah-naskah keagamaan dan hukum. Beberapa naskah kuno masih tersimpan di Museum Negeri Banten dan perpustakaan pribadi keturunan sultan.
Saat ini, upaya revitalisasi aksara ini dilakukan oleh komunitas pegiat budaya di Lebak dan Pandeglang. Mereka mengajarkan aksara Sunda Banten di sanggar-sanggar kecil. Jika Anda tertarik, cari komunitas "Sundanese Script Lovers" di media sosial—mereka rutin mengadakan workshop gratis setiap akhir pekan.
Apakah semua situs sejarah di Banten bisa dikunjungi gratis?
Sebagian besar situs seperti Masjid Agung Banten Lama dan Benteng Speelwijk tidak memungut biaya masuk. Namun, beberapa lokasi seperti Keraton Surosowan mungkin menerapkan tarif parkir atau donasi sukarela. Cek langsung ke lokasi untuk informasi terbaru.
Kapan waktu terbaik mengunjungi Banten Lama?
Datanglah di pagi hari antara pukul 07.00-10.00. Suhu masih sejuk, dan Anda bisa menikmati suasana tanpa keramaian. Hindari akhir pekan besar atau libur nasional karena pengunjung bisa membludak.
Apakah tradisi Debus masih sering dipertunjukkan?
Masih, terutama di Kabupaten Serang dan Pandeglang. Jadwal pertunjukan biasanya menyesuaikan acara hajatan atau festival budaya. Tanyakan pada informasi wisata di kantor kecamatan setempat.
Apa bedanya Banten dengan Sunda?
Secara budaya, Banten memiliki akar Sunda yang kuat, tetapi telah bercampur dengan pengaruh Jawa, Arab, dan Tiongkok. Bahasa sehari-hari masyarakat Banten menggunakan dialek Sunda Banten yang berbeda dari Sunda Priangan. Logatnya lebih keras dan cepat.
Apakah aman berkunjung ke situs sejarah Banten sendirian?
Relatif aman. Namun, beberapa lokasi seperti reruntuhan Keraton Surosowan cukup sepi. Sebaiknya datang bersama rombongan atau setidaknya dua orang. Jaga barang bawaan dan patuhi aturan setempat.
Banten tidak akan habis diceritakan dalam satu artikel. Setiap kali saya pulang dari sana, selalu ada cerita baru yang menggoda untuk digali lebih dalam. Mulailah dari tujuh warisan di atas—sisanya akan mengikuti ketika Anda sudah merasakan langsung debu sejarah yang menempel di sepatu. Selamat menjelajah.