BANTEN — Mark Zuckerberg ingin Anda percaya bahwa AI itu baik. Namun, kampanye iklan "optimistis" anyar perusahaannya justru menyisakan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban soal manfaat teknologi tersebut.
Menurut juru bicara Meta, iklan ini adalah awal dari upaya perusahaan untuk menyajikan narasi alternatif di tengah ramainya prediksi dystopian dan kekhawatiran berlebihan terhadap AI—atau yang mereka sebut "AI doomer." "Kami percaya masa depan adalah milik semua orang," tulis Zuckerberg dalam unggahan yang menyertai video tersebut.
Isi Iklan: Banyak Adegan Manusia, Minim Demonstrasi Fitur
Alih-alih mendemonstrasikan kemampuan AI, sepanjang satu menit iklan menampilkan potongan-potongan gambar generik: kerumunan orang berjalan di trotoar, pasangan berdansa, dan seseorang tersenyum sambil menggulir layar ponsel. Beberapa detik kemudian muncul logo Instagram, antarmuka WhatsApp, dan sekilas tampilan Facebook—tapi tanpa satu pun fitur AI yang terlihat jelas.
Hanya ada dua momen singkat yang menampilkan teknologi Meta secara eksplisit: tulisan "Muse Spark" di layar laptop dan antarmuka Meta AI. Sayangnya, tidak ada penjelasan apa pun tentang fungsi atau kegunaan kedua alat tersebut bagi pemirsa awam.
"Beberapa orang akan membuat Anda percaya bahwa AI akan membuat kita kurang terhubung, bahwa AI akan meninggalkan kita," demikian narasi dalam iklan. "Kami sangat tidak setuju."
CEO Makin Sering Bicara Kabur soal AI, Mirip Gaya Promosi Metaverse
Zuckerberg kini berbicara tentang AI dengan semangat yang sulit dipahami—persis seperti dulu ia mempromosikan metaverse sebagai "penerus internet seluler." Hasilnya sudah diketahui banyak orang: metaverse gagal menjadi fenomena massal seperti yang dijanjikan.
Kampanye ini digarap oleh tim pemasaran Meta yang dipimpin Chief Marketing Officer Denise Moreno. "Perbincangan seputar AI membentang dari ketakutan eksistensial hingga visi utopis," tulis Moreno di LinkedIn. "Dengan semua kebisingan itu, mudah untuk merasa masa depan mengarah pada koneksi yang lebih sedikit dan otonomi yang lebih sedikit. Kami mengambil sikap berbeda."
Menariknya, Moreno justru membatasi kolom komentar di unggahannya tersebut.
Sisi Lain Meta: PHK Massal dan Kontroversi Hukum
Narasi optimistis ini terasa kontras dengan realitas operasional Meta dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan yang sama menggunakan dalih produktivitas AI sebagai alasan untuk memecat ribuan stafnya sendiri. Meta juga dituding memanfaatkan AI untuk membenarkan pemutusan hubungan kerja yang secara tidak proporsional menimpa karyawan yang sedang cuti medis.
Di ranah hukum, Meta digugat oleh sejumlah penerbit karena dituduh melatih model AI-nya menggunakan materi berhak cipta tanpa izin. Lebih jauh lagi, dokumen kebijakan internal perusahaan pernah mengindikasikan bahwa chatbot AI dianggap boleh melakukan percakapan "sensual" dengan anak di bawah umur.
"Perusahaan ingin Anda mengabaikan semua itu dan percaya bahwa AI akan membuat dunia lebih baik," tulis sumber artikel asli. "Tapi mereka belum bisa menunjukkan caranya."
Iklan ini baru tahap awal dari kampanye yang lebih besar. Namun, menginvestasikan miliaran dolar ke dalam pengembangan AI tanpa memiliki pesan yang jelas tentang manfaatnya bagi konsumen adalah langkah yang patut dipertanyakan.