BANTEN — Mengusung tema "The Enabled Enterprise", ignitePRO menyoroti bahwa adopsi AI di level enterprise kerap terhenti di tahap uji coba. Padahal, kunci keberhasilan transformasi terletak pada kesiapan infrastruktur, tata kelola data, dan sumber daya manusia untuk mendukung operasi berskala besar.
“Tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar menentukan apakah AI, cloud, dan otomasi perlu diadopsi, melainkan memastikan data, infrastruktur, keamanan, sumber daya manusia, dan mitra telah siap mendukung eksekusi yang andal dalam skala besar,” ujar Chief Commercial Officer Telin, Kharisma, dalam keynote speech pembukaan. Ia menambahkan, fondasi tersebut harus dibangun melalui konektivitas andal dan kemitraan ekosistem yang tepercaya.
Perspektif regulasi turut memperkaya diskusi. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Sonny Hendra Sudaryana, memaparkan tiga prioritas nasional: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Ketiganya menekankan perluasan konektivitas inklusif, penguatan talenta digital, serta perlindungan data pribadi dan keamanan siber.
Forum ini kemudian menjabarkan agenda ke dalam empat pilar utama yang saling terkait. Intelligence membahas langkah membawa AI dari eksperimen ke nilai bisnis, sementara Trust menekankan tata kelola dan transparansi. Pilar Infrastructure mengulas kesiapan arsitektur teknologi dan kedaulatan data, dan Collaboration menjadi penutup dengan menekankan sinergi antar pemangku kepentingan.
Sesi panel bertajuk "No Enterprise Transforms Alone: Building the Enablement Ecosystem" menegaskan bahwa transformasi AI tidak bisa berjalan sendiri. Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, yang menjadi panelis, mengakui bahwa ambisi mengadopsi AI sangat besar, namun eksekusi sering kali tersendat di level implementasi.
“Tantangan sesungguhnya bagaimana membawa AI dari sekadar pembuktian konsep menjadi implementasi yang benar-benar terintegrasi dalam strategi bisnis dan menghasilkan dampak nyata,” jelas Veranita. Ia menekankan bahwa transformasi tidak berhenti pada penggunaan perangkat lunak semata, melainkan membutuhkan perubahan model operasi dan kapabilitas manusia.
Melalui forum yang menggandeng Tech in Asia sebagai mitra konten ini, Telin berharap dapat mendorong perusahaan di kawasan untuk tidak hanya memahami potensi AI, tetapi juga memiliki peta jalan implementasi yang jelas. Targetnya sederhana: AI harus mampu menciptakan nilai terukur, baik dari sisi produktivitas, inovasi, maupun pengalaman pelanggan.