BANTEN — Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan kepastian pengadaan pesawat tempur Chengdu J-10 pada Oktober 2025. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam sejarah pengadaan alutsista Indonesia, yang selama puluhan tahun didominasi pesawat buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa.
Nilai Kontrak Capai USD9 Miliar untuk 42 Unit
Sejumlah laporan internasional menyebut nilai pengadaan mencapai lebih dari USD9 miliar untuk 42 pesawat. Jumlah tersebut menjadikan kesepakatan ini sebagai salah satu kontrak pertahanan terbesar yang pernah diteken Indonesia.
Keputusan akuisisi ini diambil di tengah persaingan geopolitik yang semakin kompleks. Pilihan pada J-10C menunjukkan diversifikasi sumber persenjataan yang ditempuh pemerintah untuk memperkuat armada tempur TNI AU.
Spesifikasi J-10C: Multiperan Generasi 4,5 dengan Mesin WS-10B
Chengdu J-10C merupakan jet tempur multiperan generasi 4,5 yang menjadi tulang punggung Angkatan Udara China. Pesawat ini memiliki panjang sekitar 16,9 meter dengan berat lepas landas maksimum mendekati 19 ton.
Tenaga penggerak utama J-10C berasal dari mesin turbofan WS-10B buatan dalam negeri China. Mesin ini memungkinkan pesawat melesat hingga kecepatan sekitar Mach 2 atau dua kali kecepatan suara.
Dengan kemampuan multiperan, J-10C dirancang untuk misi superioritas udara, serangan darat, dan pengintaian. Sistem radar dan avionik modern menjadi andalan jet tempur ini dalam menghadapi ancaman kontemporer.
Diversifikasi Sumber Alutsista di Tengah Ketegangan Global
Selama beberapa dekade, armada tempur TNI AU didominasi pesawat buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa. Kehadiran J-10C menandai semakin beragamnya sumber persenjataan Indonesia di tengah persaingan geopolitik yang semakin kompleks.
Langkah ini juga menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah pengadaan alutsista Indonesia. Pemerintah sebelumnya telah menjajaki kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, termasuk Korea Selatan dan Turki, untuk memenuhi kebutuhan modernisasi militer.
Kepastian akuisisi J-10C sekaligus memperkuat posisi China sebagai mitra pertahanan strategis Indonesia di kawasan. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri atau Kementerian Pertahanan mengenai jadwal pengiriman dan skema pembayaran kontrak tersebut.