LEBAK — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, mulai mengembangkan tanaman ubi jalar varietas kuning putih di tiga kecamatan. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani di tengah ancaman kekeringan saat musim kemarau.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan pengembangan komoditas ini menyasar Kecamatan Kalanganyar, Rangkasbitung, dan Cibadak. Ketiga wilayah tersebut dinilai memiliki karakteristik lahan yang cocok untuk budidaya umbi-umbian.
Nilai Ekonomi Ubi Jalar Capai Rp50 Juta per Hektare
Dodi menjelaskan, ubi jalar memiliki prospek pasar yang menjanjikan dengan harga jual mencapai Rp5.000 per kilogram. Dengan produktivitas 10 ton per hektare, petani berpotensi meraup pendapatan kotor hingga Rp50 juta dalam sekali masa tanam.
"Jika produksi 10 ton di harga Rp5.000 per kg, maka menghasilkan pendapatan ekonomi Rp50 juta per hektare," kata Dodi di Lebak, Senin.
Angka tersebut jauh lebih kompetitif dibandingkan beberapa komoditas pangan lain yang selama ini dominan ditanam petani di Lebak. Selain itu, masa panen ubi jalar relatif singkat, yakni sekitar 120 hari setelah tanam.
Alternatif Pangan Sehat untuk Penderita Diabetes
Selain bernilai ekonomis, ubi jalar dinilai memiliki segudang manfaat bagi kesehatan. Dodi menyebut komoditas ini cocok dijadikan makanan alternatif pengganti nasi, terutama bagi penderita diabetes dan mereka yang sedang menjalani program diet.
Kandungan gizinya disebut mampu membantu menurunkan berat badan, menstabilkan tekanan darah, hingga menekan kadar kolesterol. Tidak hanya itu, ubi jalar juga kaya asam folat dan zat besi yang baik untuk kesehatan ibu hamil serta dapat meningkatkan imun tubuh.
"Manfaat tanaman ubi jalar tersebut dapat menurunkan berat badan dan mencegah diabetes juga bisa menstabilkan tekanan darah dan kolesterol," ujarnya.
Solusi Lahan Kering Saat Kemarau
Keunggulan lain dari ubi jalar adalah ketahanannya terhadap kondisi kekeringan. Tanaman ini tidak membutuhkan pasokan air yang melimpah, sehingga sangat cocok ditanam di lahan kering yang lembab maupun area persawahan pada musim kemarau.
"Saya kira tanaman ubi jalar sama dengan ubi kayu bisa ditanam di lahan kering yang lembab, tapi tidak becek. Bisa hidup di lahan sawah," jelas Dodi.
Sifat adaptif ini menjadikan ubi jalar sebagai pilihan rasional bagi petani Lebak yang kerap menghadapi gagal panen akibat kekeringan. Alih-alih membiarkan lahan menganggur, petani tetap bisa memproduksi pangan sepanjang tahun.
Kalanganyar Jadi Percontohan, Satu Kelompok Tani Mulai Tanam
Di tingkat lapangan, pengembangan ubi jalar mulai direspons positif. Penyuluh pertanian Kecamatan Kalanganyar, Dike Cidrasari, menyebut pihaknya telah menggerakkan satu kelompok tani untuk membudidayakan komoditas ini sebagai andalan penghasilan.
"Kami berharap petani saat musim kemarau agar menanam ubi jalar, karena tidak membutuhkan pasokan air, namun menghasilkan produksi pangan dan ekonomi," kata Dike.
Dengan produktivitas hingga 10 ton per hektare, Dike optimistis ubi jalar mampu menjadi penyangga ekonomi rumah tangga petani. Ia pun mendorong kelompok tani lain di wilayahnya untuk mengikuti jejak serupa guna mengoptimalkan lahan di musim kemarau.