TANGERANG — Asap pekat bercampur bau menyengat masih menyelimuti permukiman warga di sekitar TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Kondisi itu memaksa 28 jiwa dari Desa Tanjakan Mekar untuk terus bertahan di posko pengungsian yang didirikan di Kantor Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, sejak sepekan lalu.
Warga Pilih Bertahan Meski Bantuan Logistik Tercukupi
Salah seorang pengungsi, Qipi, mengaku memilih untuk tidak mengambil risiko dengan kembali ke rumahnya. Meskipun bantuan logistik dari pemerintah telah mencukupi, kekhawatiran akan dampak kesehatan menjadi alasan utamanya.
"Saya sudah mengungsi selama tujuh hari. Kalau untuk bantuan tercukupi, seperti logistik makanan, kasur, itu tercukupi semua," kata Qipi di lokasi pengungsian, Senin. "Asap masih ada. Jadi, saya pilih menetap sementara di sini, karena tidak mau ambil risiko," ujarnya.
Anak-anak dan Lansia Paling Terdampak, ISPA Mengintai
Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, mengungkapkan bahwa mayoritas pengungsi adalah kelompok rentan, yakni anak-anak dan lansia. Ia menegaskan bahwa asap dari TPA tersebut mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
"Kalau untuk hari ketujuh, sekitar 20 orang lebih. Asap TPA itu mengandung racun, ya memang untuk sehari-hari itu udah terdampak betul," katanya.
Meski sebelumnya banyak warga yang mengeluhkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Uti memastikan kondisi kesehatan para pengungsi kini berangsur membaik. Hal itu berkat pemeriksaan rutin dari tenaga medis Puskesmas Rajeg yang selalu siaga di lokasi. "Ya alhamdulillah, dokter dan Puskesmas Rajeg memang selalu mengecek apabila ada warga yang mengungsi langsung diperiksa kesehatannya," ujarnya.
Stok Logistik Aman, Bantuan Terus Berdatangan
Kebutuhan pangan para pengungsi dipastikan aman. Dapur umum telah beroperasi selama tujuh hari ke depan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Uti menyebutkan, bantuan logistik terus mengalir dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, PDAM, hingga Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Banten.
"Alhamdulillah, logistik, semua makanan tercukupi, selain dari Dinsos, semalam juga dari Kementerian Sosial, termasuk dari PDAM dan bupati, dari provinsi pun sudah masuk," ujarnya.
Pemadaman dari Darat dan Udara Masih Berlangsung
Upaya pemadaman api di TPA Jatiwaringin masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Pemda, BNPB, KLH, dan Kemenhut. Operasi pemadaman dilakukan melalui dua jalur, yakni darat dan udara.
Petugas pemadam kebakaran dan personel Manggala Agni berjibaku memadamkan api dari darat. Sementara itu, tiga unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikerahkan untuk operasi pemadaman dari udara. Hingga Senin, lahan yang terbakar mencapai 18 hektare dari total 33 hektare. Petugas berhasil mengendalikan api dan hanya menyisakan sekitar 3,6 persen area yang masih berusaha dipadamkan.