TANGERANG — Puluhan perempuan muda dari keluarga prasejahtera di Kabupaten Tangerang memulai babak baru melalui Program Lentera. Mereka adalah angkatan perdana yang akan menjalani pelatihan keterampilan khusus yang dirancang untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja.
Kehadiran program ini tidak lepas dari kondisi ketenagakerjaan Banten yang memprihatinkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Banten untuk usia 15 tahun ke atas mencapai 6,69 persen pada Agustus 2025, menempatkan provinsi ini di posisi keempat tertinggi secara nasional.
Angka NEET Banten Capai 23,79 Persen, Perempuan Paling Terdampak
Persoalan yang dihadapi tidak hanya soal mereka yang aktif mencari kerja, tetapi juga generasi muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (NEET). Data BPS menunjukkan angka NEET Banten mencapai 23,79 persen, atau berada di peringkat ke-10 se-Indonesia.
Kondisi ini berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja perempuan yang lebih rendah dibanding laki-laki. TPT perempuan di Banten tercatat 7,12 persen, sementara laki-laki berada di angka 6,45 persen.
Ironisnya, tingkat pengangguran tertinggi justru disumbang oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan persentase menembus 10,13 persen. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Kurasi Ketat: 20 Perempuan Terpilih dari Ribuan Pendaftar
Program Lentera hadir sebagai respons atas tantangan tersebut. Dari proses seleksi yang berlangsung ketat, 20 perempuan muda prasejahtera di Tangerang akhirnya terpilih menjadi peserta perdana. Mereka akan dibekali berbagai keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Fokus program ini tidak hanya pada kemampuan teknis, tetapi juga pengembangan kepemimpinan dan pemberdayaan diri. Harapannya, para peserta tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya.
Dengan adanya program ini, diharapkan terjadi pergeseran angka ketenagakerjaan di Banten, khususnya bagi kelompok perempuan yang selama ini menghadapi hambatan lebih besar untuk memasuki pasar kerja.